Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #13

Guyub Rukun Seduluran Saklawase

Satu minggu awal dihabiskan Bhanu untuk berkeliling kota Pontianak. Sinar mentari yang terik itu memantul di permukaan air sungai Kapuas yang lebar nan panjang, membagi wilayah Pontianak Timur dan Pontianak utara, membelah bagian utara dan selatan Pontianak, memendarkan cahaya keemasan.

Saat itu belum ada jembatan khusus menyeberangi Sungai Kapuas yang lebarnya 70 sampai 150 meter yang menghubungkan kedua bagian wilayah Pontianak tersebut (dibangun beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1982). Beragam jenis motor air berseliweran marak di atas sungai, mengantarkan para penumpang dari satu sisi ke sisi lainnya.

Tidak mudah memang tinggal di rumah orang, tidak peduli ia merupakan bagian dari keluarga. Sialnya lagi, Bhanu sendiri tidak akrab dengan Om Sunar. Meskipun Om Sunar menyambut Bhanu dengan hangat, bahkan sumringah, tetap saja perasaan tidak enakan yang menjadi khas orang Jawa itu muncul ke permukaan dengan jelas.

Om Sunar jelas memiliki alasan untuk menerima Bhanu dengan baik. Perasaan guyub rukun seduluran saklawase[1] tentu membuat Om Sunar senang dengan kehadiran Bhanu. Jauh-jauh merantau, hidup diantara orang-orang yang berbahasa dan berbudaya berbeda, dengan keadaan geografis dan lingkungan yang berbeda pula, kedatangan saudara jauh tentu membawa angin segar. Kerinduan akan cerita-cerita di kampung halaman, kabar akan sanak saudara dan famili juga menambah sukacita.

Hanya saja, apa itu saja tujuan kehadiran Bhanu di Pontianak? Tentu tidak. Ia memiliki misi, yang mana memerlukan Om Sunar untuk mencapainya.

Pekerjaan.

Om Sunar tidak bisa berjanji banyak, meski ia meyakinkan Bhanu untuk membantu mencarikan informasi mengenai pekerjaan.

Bhanu sendiri tentu enggan mengharapkan semua kemungkinan kepada Om Sunar. Sudah beruntung saudaranya itu mengizinkannya untuk tinggal di rumahnya.

Dan, itu juga bukan tanpa masalah.

Meskipun Bhanu terbiasa mandiri bahkan disiplin di dalam kesehariannya (terima kasih pada kehidupan asramanya), tinggal di tempat orang lain adalah hal yang menantang. Rasa tidak enakan harus terus berdatangan.

Ia harus bangun setiap pagi, lebih pagi dari pemilik rumah. Bayangkan saja, ketika ia tidur di kursi atau di lantai, istri Om Sunar yang sudah bangun sudah mulai menyapu dan beberes. Belum lagi kesibukan anggota keluarga yang lain, anak-anak siap pergi ke sekoah, Om Sunar siap-siap pergi bekerja, dan setelah beberes istri Om Sunar mulai memasak.

Tidak mungkin semenit saja ia terlambat bangun dan membiarkan orang rumah bersibuk sedangkan ia masih molor.

Maka, tidak hanya bangun jauh lebih awal, Bhanu juga selalu melibatkan diri di dalam kegiatan awal keluarga tersebut. Ia sigap menyapu, menawarkan diri untuk mencuci piring, atau membantu hal-hal kecil lainnya.

Bhanu juga harus mencari kegiatan di luar rumah sesering mungkin. Bagaimanapun ia sedang menumpang. Itu sebabnya, dalam jangka waktu yang cukup bisa diterima (satu minggu), Bhanu keluar rumah semenjak pagi, berkelana keliling Pontianak, ke setiap sudut kota. Ia merekam dan menelan jenis kehidupan sosial masyarakat kota ini. Dari terminal ke terminal, dari pelabuhan ke pelabuhan, dari satu jalan ke jalan lain, bahkan pasar ke pasar lain.

Ia mencoba mandiri untuk melihat keadaan dan mencari kemungkinan untuk bekerja. Namun, selain mencari pekerjaan, sembari menunggu informasi dari Om Sunar pula, Bhanu mencoba untuk memahami kota ini dengan lebih baik. Tidak hanya untuk mengetahui dan menghapal wilayah serta nama-nama jalan, tetapi bagimana sebenarnya cara kerja masyarakatnya. Bagaimanapun, Bhanu memiliki latar belakang pendidikan sosial, ia pun bekerja di balai pembinaan sosial. Tak heran ketertarikannya terhadap kemasyarakatan serta budaya cukup besar.

 

***

 

“Nu, sementara ikut Om bekerja di kantor Om saja, piye[2]?”

Tepat seminggu setelah Bhanu bergerilya di belantara kota Pontianak, Om Bhanu menyampaikan hal ini kepada Bhanu. Waktu itu keduanya sedang duduk di tepian parit besar di sore hari. Sungai Kapuas sedang pasang sehingga parit pun ikut naik airnya. Bunyi deru motor air yang lewat membelah permukaan parit menggelundungkan ombak ke tepian. Di angkasa, sinar lemah cahaya matahari masih mencoba menembus retakan awan. Dua cangkir kopi pancong[3] terhidang di hadapan keduanya.

Lihat selengkapnya