Surat balasan dari Prasetya itu sampai pula di tangan Bhanu. Bahkan dari tulisan tangan dan nada yang bisa Bhanu rasakan di dalam otaknya, Prasetya tetap merupakan seorang perempuan yang tenang, perhatian, bahkan penuh pengertian. Sialnya, ini membuat Bhanu semakin hancur.
Rasanya bukan hanya sedih, tetapi juga teriris. Logika, rasa, dan realita-nya bercampur aduk.
Awalnya Bhanu berpikiran bahwa Prasertya bakal menjawab lama suratnya, mungkin juga sama sekali tidak membalasnya. Karena kesal dan kecewa tentu, apa lagi? Itu sudah kemungkinan paling buruk yang bisa Bhanu pikirkan.
Hatinya pun sudah disiapkan untuk kemungkinan lain, apalagi kalau bukan balasan surat Prasetya yang penuh dengan pertanyaan, amarah, kekesalan, dan mungkin sumpah serapah. Bagaimana tidak, ia meninggalkan begitu saja Jogja tanpa berujar satu patah kata pun, tak meninggalkan bekas bahkan remah-remah yang bisa Prasetya ambil.
Sialnya, Bhanu tidak siap dengan yang sungguh-sungguh terjadi.
Prasetya sama sekali tidak marah. Ia paham dengan apa pun keputusan Bhanu yang walau mendadak itu, toh, tujuannya adalah masa depan keduanya.
“Aku paham kok Mas Bhanu. Aku juga tidak akan berhenti mendukung Mas Bhanu. Aku tunggu di Jogja.”
Kalimat akhir yang sederhana, penuh pemahaman dan kerelaan, dan sialnya, itu memukul Bhanu dengan telak. Ia tidak siap dengan ini.
Surat Prasetya yang pertama itu, dibalas oleh Bhanu. Dan kembali berbalas. Selesai.
Dua kali keduanya saling berbalas surat sampai akhirnya sebuah kesadaran aneh menggoncang Bhanu.
Ia sungguh berhenti menghubungi Prasetya sampai tiga bulan kemudian.
Ritme hidupnya di Pontianak masih belum bernada. Bhanu masih mengambang di awang-awang. Pekerjaannya di perusahaan kayu, menjadi bagian dari staf administrasi gudang. Sebagai juru tulis, ia mencatat jumlah batang kayu yang masuk, ditebang dari pedalaman dan dikirim lewat sungai. Ia juga bertugas mencatat asal kiriman serta jenis-jenis kayu yang masuk ke gudang. Entah itu meranti, entah itu ulin, dan lain sebagainya.
Ia tidak kesulitan dengan pekerjaan ini, meskipun latar belakang pendidikan sosialnya tidak terlalu ‘nyambung’. Bhanu yang tenang dan teliti membuatnya mampu bekerja dengan baik. Hanya saja, hatinya terlalu bergemuruh. Ia tidak mengeluh pun tidak kesulitan dalam melaksanakan kewajibannya tersebut.
Namun, hatinya masih belum merasa bahwa ia berpijak di tanah yang tepat. Belum merasa berada di rumah.
Mungkin karena masih digelayuti rasa bersalah, kegamangan, ditambah dengan balasan-balasan Prasetya yang semakin membuatnya tidak percaya diri dan tentu saja semakin merasa bersalah, Bhanu mulai memikirkan kemungkinan lain.
Terombang-ambing memang bukan perasaan yang menyenangkan. Bhanu boleh sja tenang, mungkin termasuk orang yang sabar. Prasetya sepakat dengan ini. Baginya, Bhanu lebih dari cukup baginya. Masalah pekerjaan, status, itu bukan perihal baginya. Keduanya dapat saja hidup bersama sembari pelan-pelan meningkatkan hajat hidup bersama. Prasetya pun berkali-kali mengutarakan dan menegaskan kepada Bhanu mengenai hal ini.
Sayang, badai di dalam jiwa Bhanu yang masih muda itu sudah menggonjang-ganjingkan dirinya. Bukannya Bhanu tidak berusaha paham dan sadar bahwa apa yang sudah mengganggunya selama ini mungkin saja salah. Ia merasa menjadi orang yang tidak tahu diuntung, tidak mampu bersyukur, berlebihan, dan repot sendiri.
Apa mau dikata? Tidak ada kata-kata yang berhasil menghiburnya. Tidak ada kalimat yang menenangkannya. Kakinya masih goyah dan pegangannya masih goyang.
“Om, kulo mau pergi ke Jakarta. Nyuwun pangapunten[1] karena kulo masih mau merantau dan mencari pekerjaan yang pas dulu. Mencari pengalaman juga. Terima kasih karena sudah mau kulo repotkan,” ucap Bhanu kepada Om Sunar setelah kurang lebih empat bulan di Pontianak, dan dua kali membalas surat Prasetya.