Apa yang sejatinya digalaukan oleh seorang Bhanu Srengenge? Ia pun tak terlalu paham, pun tak terlalu berani untuk mengeluhkannya dengan nyata-nyata. Ia bukan jenis pemuda ambisius yang mengetengahkan kesuksesan finansial sebagai puncak tujuan hidupnya. Bukan berarti uang tak bermakna bagi dirinya, tetapi memaknai kesuksesan masih sedang ia perjuangkan, dan mungkin sekali itu bukan sekadar uang.
Malu rasanya bila ia berkoar-koar bahkan kepada dirinya sendiri bahwa selama ini ia hidup di dalam kesengsaraan, dan seperti kisah para tokoh-tokoh sukses yang ada di buku-buku, ia pun akan bangkit dan meraih keberhasilan yang akan ia tunjukkan kepada dunia. Ia memang bukan berasal dari keluarga kaya raya, tetapi jelas juga bukan dari famili yang melarat. Kelak kalau pun ia mampu mentas, mandiri, seratus persen berdiri sendiri, itu toh memang sudah tujuan hidup semua orang, semua laki-laki di bumi ini.
Lantas apa sebenarnya yang ia keluhkan?
Ia sudah berperilaku pengecut dengan meninggalkan Prasetya, melepaskan tanggung jawabnya sebagai laki-laki. Ironis, bukan? Di satu sisi, apa yang sedang ia kerjakan adalah bentuk validasi dan tanggung jawabnya sebagai laki-laki sejati. sedangkan di sisi lain, ia malah menunjukkan sebuah paradoks.
Mungkin sejatinya Bhanu masih merasa sedang berlari, bukan sekadar berjalan di setapak kehidupan. Ia menghindari ketakutan dan kecemasan, meninggalkan hal-hal yang berupa ketidakpastian, serta ketidakjelasan mengenai masa depan.
Jogja adalah rumahnya, tempat ia lahir dan besar. Kunang-kunang yang berseliweran di sawah pada senja untuk mencari pasangan di masa pancaroba, laron yang keluar sejenak hanya untuk mati atau terlebih dahulu hadir di dapur rumahnya sebagai rempeyek laron, atau tikus-tikus sawah yang diburu untuk pada masa gropyokan[1], adalah beberapa hal yang terlalu akrab baginya.
Namun, Jogja tidak selalu menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman buatnya. Ia masih mencari-cari kemana gerangan tempat yang dapat menanungi segala kegundahan hatinya itu. Ada resa perih yang aneh ketika mengingat Wadipuro, desa tempat ia lahir. Ada rasa jengah ketika mendengar dari balik bilik mulut-mulut beberapa orang terus menggaungkan dosa anak belasan tahun yang menjual sawah orang tuanya. Ada rasa begah di perutnya ketika menyadari bahwa ia memiliki ikatan dengan seorang perempuan kaya, terhormat, dan keturunan darah biru, hampir berbalik seratus delapan puluh derajat dengan keadaan dan status sosialnya.
Di Jakarta, sudah beberapa bulan Bhanu bekerja di pasar sebagai pedagang di sebuah toko kelontong besar milik orang Cina. Karena lumayan berpendidikan di masa itu, Bhanu mendapatkan pekerjaan administratif, menghitung stok barang dan kadang menjaga toko.
Toko kelontong itu berada di pusat keramaian yang rawan bersinggungan dengan konflik dan masalah. Entah dengan pelanggan, entah dengan maling dan pencopet.
Alur hidup memang tidak lurus, melainkan beriak dan penuh kejutan. Bhanu masih merasa sebagai manusia beruntung karena ia masih bekerja di bidang yang ia bisa dan mampu. Walau sekali dua tidak mungkin untuk tidak membantu pegawai mengangkat barang atau melakukan kegiatan fisik lainnya. Bhanu tak keberatan. Ia masih jauh lebih beruntung dibanding rekan-rekannya di kampung sana yang terikat pada pekerjaa nmengangkut bata, mungkin sepanjang hidup mereka.