Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #16

Dislokasi Budaya yang Traumatis

Yang akrab bukan bahasa Jawa yang sudah menjadi nafas hari-harinya di Manggala, bukan pula pecel dan gudeg, apalagi pagelaran wayang di komunitas Jawa di pabrik kayu dimana ia bekerja. Bunyi aliran arus sungai, angin khas yang mengelitik dedaunan, udara yang mengambang gamang, membuat pikiran mengawang-awang.

Bhanu tahu ini mengarah ke mana. Pontianak.

Setiap hari ia melihat batang-batang kayu, diikat rapi nan erat, dihanyutkan di Sungai Tulang Bawang. Sebagian memiliki dokumen, sebagian tidak. Bahkan di malam hari, ia tahu ada kayu-kayu yang dijalin seperti rakit yang lewat tanpa surat padahal semua orang tahu. Tidak ada yang membicarakannya.

Setelah bekerja sedikit berbeda di Jakarta, mana tahu ternyata takdir membawanya kembali ke perusahaan kayu. Sungguh tak terasa, ia sudah memamah habis lima bulan di Lampung. Lima bulan yang mungkin tak sia-sia, tetapi tak kunjung ia dapati maknanya.

“Ke mana sebenarnya semua batang kayu ini pergi?” pikirnya.

Kayu-kayu itu selalu mengikuti arus dan tak pernah memilih jalannya sendiri. Sama seperti dirinya. Arus dari Jogja yang membawanya ke Pontianak, kemudian Jakarta, kemudian Lampung seakan-akan ini pergi menjauhi sesuatu, bukannya menuju sesuatu.

Arus itu harus bermuara di suatu tempat, bukan? Kayu-kayu harus berhenti ikut arus agar perubahan dapat terjadi, bukan?

Ia sepertinya terus mencari, terus berubah, terus berpindah. Untuk membangun sebuah rumah yang nyaman dan aman untuk ia tinggali dimana ia bisa berkembang dengan cara yang terukur, harusnya ia harus ajeg. Kesuksesan finansial adalah hal yang wajar untuk bisa siapa pun capai. Namun, ia harus tahu diri, untuk tahu arah hidupnya saja ia masih meraba-raba, apalagi untuk mengatur pencapaiannya.

Sudah cukup, pikirnya. Bukan Lampung tak memberikan harapan, bukan pula karena Lampung tidak ubahnya dengan Jakarta yang mana aroma penyelewengan dan sisi gelap mengambang di sekitarnya, melainkan karena ia rasa-rasanya ingin berdiam dan memapankan diri, menemukan sebuah rumah yang mendefinisikan diri.

Bhanu jelas merasa tak nyaman pula.

Itulah susahnya jadi orang Jawa, pikirnya. Ada istilah bahwa orang Jawa selalu kangen akan kampung halamannya. Setelah puluhan tahun bekerja, merantau di luar tempat kelahiran, ketika telah pensiun, hati selalu menawarkan keinginan yang kuat untuk kembali ke Jawa. Memiliki rumah sederhana dan sepetak tanah di pekarangan untuk menanam bunga atau sayuran.

“Sudah berapa lama Mas bekerja di luar Jawa?”

“Wah, sudah lima tahun ini saya ndak pulang ke Jawa. Kalau Abang, sudah berapa lama kerja di luar kampung halaman?”

“Aduh, belum lama, Mas, baru sepuluh tahunan.”

Lihat selengkapnya