Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #17

Bersinar Terang di Bawah Guyuran Cahaya Matahari Khatulistiwa

Bhanu sepertinya merasa bahwa ia memilih masa depan. Jogja, adalah masa lalu, tak peduli seberapa indah dan nyamannya. Udara yang ia hirup, bahasa yang ia gunakan, rasa makanan yang lumer di lidahnya, Prasetya yang selalu tersenyum untuknya, adalah semua kehangatan yang Jogja tawarkan dengan tangan terbuka. Akan tetapi, Bhanu sudah membuktikan, sudah merasakan, bahwa kenyamanan kadang merupakan lingkaran setan.

Masa lalu cenderung menjebak seseorang agar tetap berada di sana. Bak Odiseus yang ditawan Kalipso selama tujuh tahun melalui bujuk rayu, cinta, keindahan pulau Ogygia, serta tawaran keabadian agar ia lupa pada rumahnya di Ithaka.

Tak peduli seberapa menariknya Jogja, Bhanu tidak lagi merasakan rumah itu di sana.

 

***

 

Mereka memanggilnya Mei Ling, tapi nama yang tertulis di dokumen resmi negara adalah Agustina Liman.

Keputusan Presidium Kabinet No. 127 Tahun 1966 yang diperkuat oleh Keputusan Presiden No. 240 Tahun 1967 tentang warga keturunan asing memang tidak tertulis aturan wajib penggantian nama bagi orang Tionghoa atau mencantumkan sanksi pidana. Namun, dalam praktik di lapangan, warga Tionghoa yang tidak mengganti nama mereka yang berbau kecinaan sering dipersulit dalam urusan administrasi negara seperti sekolah, paspor, KTP, dan tentu saja izin usaha. Tidak hanya nama, bahkan Instruksi Presiden No. 14 tahun 1967 melarang penggunaan aksara Cina pada nama toko, papan nama, serta melakukan pembatasan ekspresi budaya di ruang publik.

Di Pontianak dan Kalimantan Barat secara umum, kebijakan penggantian nama malah diterapkan secara jauh lebih intensif, masif, dan sangat kental dengan muatan politik. Provinsi Kalimantan Barat yang menjadi medan operasi militer penumpasan gerilya komunis PGRS/Paraku makin memperkuat Me Ling untuk menggunakan nama Agustina Liman ketika berurusan dengan negara dan perihal-perihal formal lainnya.

Namun, tetap saja, Mei Ling adalah Mei Ling. Berjualan air tahu di Pasar Sudirman bersama kedua orang tuanya.

Moi[1], mampir-mampir lok lah ngape. Macam sibuk benar die ni[2],” goda Ali, penjual baju keturunan Arab dengan logat Melayu Pontianak-nya yang kental.

Sang gadis, 19 tahun usianya, hanya meringis, mengangguk sopan, kemudian berlalu. Ia diminta sang ibu untuk kembali ke rumah yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki untuk mengambil stok air tahu. Siang itu, panas mendera udara. Banyak pembeli yang memaksa keluarga Liman untuk kembali menyetok ulang.

Sebenarnya Mei Ling hanya memerlukan waktu kurang dari 5 menit untuk sampai ke rumahnya. Namun, kesempatan untuk keluar dari kios digunakannya untuk berjalan memutar. Ia rela berkorban mendapatkan godaan gombal cap kapak dari Ali dan beberapa penjaga toko Cina sepanjang jalan agar bisa melewati kios koran, majalah, dan tabloid kecil di ujung sana.

Bhanu namanya. Sang pemilik kios itu tampan sekali menurut sang amoi. Raut wajahnya mirip bintang film ternama saat itu, Rano Karno. Sungguh, tidak melebih-lebihkan, Bhanu memang mirip Rano Karno sebelum sang bintang itu memutuskan untuk berkumis.

Lihat selengkapnya