Bukan maunya Bhanu, tetapi secara taksadar, selalu saja ada semacam lapisan tipis tak kasat mata yang membatasi pandangan pada hubungannya dengan Mei Ling. Secara sosiokultural dan historis, di Jawa tercipta istilah “Cino, bencine ono[1],” yang populer pada masa Orde Baru. Kerata basa[2] ini mencerminkan adanya sentimen kecurigaan atau antipati yang tersembunyi di bahwa permukaan lapisan sosial masyarakat. Sudah lama ada kecemburuan sosial ekonomi dimana masyarakat Tionghoa sering distereotipkan sebagai kelompok eksklusif yang nggolek bathi[3] saja, mementingkan keuntungan materi dan enggan membantu di dalam kegiatan komunal khas Jawa seperti gotong royong atau kenduri.
Bhanu tidak punya masalah dengan orang yang berbeda suku. Ia berpendidikan, terbuka, supel, dan memiliki pengalaman banyak dalam hal berinteraksi dengan beragam orang dari latar belakang berbeda. Agama, budaya dan suku, termasuk tingkat sosioekonomi yang bermacam-macam. Malah sebaliknya, baginya setiap pola pikir, perspektif, dan bagaimana cara mereka menjalani hidup adalah ciri khas yang membuat orang-orang dari latar belakang berbeda unik dan indah dalam cara mereka sendiri.
Itu sebabnya sudah ada semacam chip yang tertanam di kesadarannya, Bhanu tak menduga (atau berani menduga) bahwa seorang gadis Tionghoa macam Mei Ling memiliki rasa padanya. Jurang budaya di antara mereka memang nyata adanya, mengapung di udara, tak kasat mata tapi sangat terasa.
Bhanu hanya cenderung melihat dunia Mei Ling adalah dunia yang sama sekali berbeda dengannya. Gadis itu lahir di dalam keluarga pedagang, dengan falsafah hidup yang berbeda pula dengannya. Keakraban yang tercipta diantara Bhanu dan Mei Ling karena keduanya paham bahwa mereka tidak punya alasan untuk tidak saling menghargai sesama manusia.
Akan tetapi, toh memang perbedaan itu diasah oleh politik dan sejarah setelah bartahun-tahun lamanya.
Sejak insiden PGRS/PARAKU[4] yang muncul dalam konteks Konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan Sukarno dengan semboyang “Ganyang Malaysia”-nya, kemudian menjadi sasaran operasi negara setelah perubahan politik krusial tahun 1965-1967 itu, rezim baru jelas menggunakan kesempatan ini untuk mengubah bentuk dan pola kekuasaan. Banyak anggota PGRS/PARAKU dan simpatisannya yang memang berasal dari komunitas Tionghoa. Maka, identitas ‘Cina” dan ‘komunis” dalam politik kemudian dengan gampang dicampuradukkan.
Mei Ling tidak tahu terlalu banyak tentang politik. Kedua orang tuanya mungkin tahu. Begitu juga pamannya, tetangganya. Seorang pedang Cina tua di pasar mungkin pernah kehilangan keluarganya di kampung beberapa tahun yang lalu di dalam insiden ini, begitu juga keluarga Mei Ling sendiri yang mungkin masih dicurigai sebagai PKI hanya karena mereka orang Tionghoa, tapi sepertinya dunia Mei Ling berpusat dan berputar-putar di Bhanu.
Mei Ling menikmati setiap menit interaksinya dengan Bhanu. Setiap kisah dan cerita Bhanu terutama mengenai pengalaman dan perspektifnya tentang dunia, membuat Mei Ling merasa ikut menjalani kehidupan Bhanu. Ironisnya, Mei Ling sendiri hidup di dalam kondisi politik dan sosial budaya yang tak kalah kompleksnya pula.
“Jadi, di Jawa, sudah tidak ada orang yang bisa bahasa Cina, Mas?” tanya Mei Ling.
Raut wajahnya tidak bisa menutupi keterkejutannya. Sepasang mata sipitnya berusaha melebar walau gagal.
Bhanu terkekeh. “Malah semua orang Cina medhok-medhok, Mei.”
Mei Ling mengela nafas. Keinginan besar untuk mereguk semua kisah Bhanu bahkan ikut masuk tenggelam ke dalamnya semakin nyata.