Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #19

Menghilang Dari Pusat Peredaran Tata Suryanya

Bhanu sudah lama tidak berjualan koran. Dengan berat hati, nama Mei Ling menghilang dari pusat peredaran tata suryanya. Bhanu sudah tidak mengorbit di planet gadis Tionghoa yang memilih jalan memutar untuk menemuinya itu.

Bukan tak cocok, bukan pula tak memiliki rasa, jurang perbedaan yang ditanam sejarah dan budaya itu tidak mampu membawa mereka untuk menyatu.

 

***

 

Titik itu terjadi suatu sore di pasar Sudirman yang sudah mulai kehilangan suaranya. Beberapa pedagang sudah menutup sebagian pintu tokonya. Aroma ikan asin, minyak goreng, dan kayu basah bercampur dengan asap rokok dari warung kopi Cina di seberang. Bhanu duduk di belakang tumpukan koran, melipat beberapa eksemplar yang tersisa.

Dari jauh Bhanu dapat melihat Mei Ling berjalan ke arah kiosnya. Gadis itu kemudian duduk di bangku kecil di samping kios. Ia memperhatikan Bhanu merapikan koran dan majalah.

Mei Ling mengambil satu koran dari tumpukan.

“Orang Jawa itu harus-halus, ya?” tanyanya mendadak.

Bhanu melirik, kemudian tersenyum. “Itu kan katanya.”

“Tapi Mas halus orangnya?”

“Ya, kalau sedang tidur. Tapi kasar juga. Soalnya ngorok.”

Mei Ling tertawa cukup keras sampai pedagang di sebelah menoleh.

Bhanu ikut tersenyum.

Mei Ling jelas datang ke kios koran itu bukan lagi karena ingin membaca berita. Dari mulut Bhanu, dunia terasa jauh lebih besar daripada yang selama ini dikenalnya. Lelaki itu dapat bercerita tentang Jogja tanpa terdengar seperti sedang membanggakan kota kelahirannya, atau tentang Jakarta tanpa membuat kota itu terdengar seperti pusat dunia, atau tentang Lampung tanpa menganggap pengalaman singkatnya di sana sebagai sesuatu yang tidak penting. Bhanu bercerita seperti orang yang telah belajar bahwa setiap tempat menyimpan manusia dengan cara hidupnya masing-masing, dan setiap manusia memiliki alasan sendiri untuk menjadi seperti dirinya.

Mei Ling menyukai cara itu.

Tapi kalau mau jujur, Mei Ling tidak tahu apakah yang membuatnya tertarik adalah cerita-cerita Bhanu atau lelaki yang menceritakannya. Mungkin keduanya sudah bercampur terlalu jauh untuk dibedakan.

“Mas Bhanu, orang Jawa itu kayak apa sih?” tanyanya.

Lihat selengkapnya