Srengenge

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #20

Adalah Baik Bagi Tubuh

Tulisan tangan Bhanu rapi, tegak bersambung, cenderung sedikit condong ke kanan.

Tahun 1979, usia Bhanu sudah beranjak ke-29 tahun.

Ia sedang menulis surat lamaran untuk menjadi pegawai negeri ke kantor Departemen Sosial Pontianak[1].

Harusnya dari awal ia sauah harus sadar bahwa latar belakang pendidikannya di SPSA Hati Maria akhirnya juga akan membuatnya berlabuh di departemen sosial. Namun, kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada yang tidak bermakna di kehidupan ini. Pekerjaannya bekerja di berbagai tempat dan bidang, dari perkayuan sampai perkoranan, bertemu Mei Ling, dan akhirnya jalan setapak mengarahkannya ke depan gedung kantor Depsos ini memang sudah menjadi bagian dari peta hidupnya.

Kemejanya bersih, lengan panjangnya digulung dua kali saja, sedikit melewati pergelangan tangannya. Celana panjang kain abu-abu disetrika rapi, garis depannya dilipat dan diperkuat dengan percikan air sebelum ditekan oleh panas gosokan.

Bhanu menyerahkan berkas-berkas kepada petugas bagian tata usaha dan kepegawaian.

Selarik memori lewat di pikirannya. Ijazah dan surat-surat penting yang ia sembunyikan di punggung, di balik baju, yang ia tukar dengan tas selempang demi kebebasannya dari sindikat penipuan sewaktu masih di Jogja dulu, kini mungkin mendapatkan tempatnya.

Bhanu tidak langsung meninggalkan kantor itu, sebaliknya ia malah diminta untuk menunggu sebentar.

Pintu ruang kepala kantor ia ketuk beberapa saat kemudian.

“Iya, masuk.”

Bhanu membuka pintu, mendapatkan seorang laki-laki yang mungkin berusia 40-an tahun ke atas, dengan kepala yang hampir plontos tetapi divalidasi dengan kumis tebal yang berbaring rapi di bawah lubang hidungnya, duduk di balik meja kerja yang sepertinya menelan habis tubuhnya yang kecil itu.

“Silahkan duduk, Mas,” ujarnya.

Ia hanya melirik sebentar ke arah Bhanu, sebelum kemudian kembali membaca berkas-berkas yang ada di atas mejanya. Rupa-rupanya semua berkas yang diperlukan serta surat lamaran yang ditulis tangan oleh Bhanu sudah ada di sana. Secara khusus, si kepala kantor sedang membaca surat lamarannya.

“Mas Bhanu Srengenge, benar?”

“Benar, Pak,” respon Bhanu.

“Saya sudah baca semua berkas dan surat lamaran Mas Bhanu,” ia mendongak untuk menatap Bhanu, kemudian tersenyum lebar, “ini yang sedang kami butuhkan, Mas. Kok baru kelihatan sekarang?”

Baru terpekur. Ia spontan ikut tersenyum.

Lihat selengkapnya