Kabar tentang kepergian Sri, ternyata tersebar lebih cepat dari yang dibayangkan. Semua tiba-tiba mempertanyakan tentang sosok Zus Mintje, walau beberapa bulan lalu, Sri sebenarnya sudah mengenalkan tentangnya, namun baru kali ini Zus Mintje benar-benar jadi bahan pembicaraan di rumah.
Namun setiap ada pertanyaan itu, Sri selalu hanya bisa mengangkat bahu tak bisa menjawab. Baru disadarinya bila ia ternyata tak banyak tahu tentang sosok Zus Mintje. Sri bahkan tak tahu dari mana asalnya. Mungkin dari Surabaya, karena ia beberapa kali menceritakan pengalamannya di sana. Namun Sri tak begitu yakin. Sri bahkan tak tahu, kenapa ia dipanggil Zus.
Yang Sri tahu ia perempuan matang yang cantik. Walau dandanannya menurut Patra sedikit menor, namun tetap saja ia terlihat menawan. Apalagi Sri pernah beberapa kali melihatnya tanpa rias wajah berlebih, dan Sri merasa kalau ia memanglah cantik. Dapat dibayangkan semasa mudanya dulu pastilah para lelaki berlomba-lomba mendapatkannya. Kini Sri memperkirakan usianya mungkin sudah 40 tahun, tapi ia masih nampak terlihat energik, tak berbeda dengan mbak-mbaknya yang mungkin berusia 15 tahun lebih muda.
Dengan tubuh yang tetap langsing, tak jauh berbeda darinya, Sri selalu melihat Zus Mintje dibalut dengan pakaian yang indah dan mahal. Ia memang tak pernah terlihat memakai jarik, namun selalu memakai pakaian-pakaian modern. Tidak sekadar pakaian modern, namun pakaian modern yang berkelas. Gaun-gaunnya selalu nampak indah, dan sangat jarang dipakai perempuan di sekitar sini, seperti gaun-gaun noni-noni Belanda.
Pembawaan Zus Mintje juga nampak selalu tenang, walau sering Sri melihat matanya nampak menyelidik. Tutur katanya halus, dan pintar bercerita. Di tangannya tak pernah lepas sebuah kipas cendana yang menaburkan bau wangi yang samar.
Zus Mintje sangat baik pada Sri. Katanya dulu, Sri adalah penyanyi nomor 1 pilihannya. Sehingga bila ada pekerjaan-pekerjaan mendadak, Sri yang pertama kali akan dihubunginya.
Sampai sejauh ini semuanya lancar.
***
Namun lepas tentang sosok Zus Mintje, persoalan yang sebenarnya pelik tetaplah ada pada diri Sri sendiri. Sejak berita tentang keinginannya pergi meninggalkan rumah terdengar, Mbak Tati, Mbak Wati dan Mbak Yuyun datang ke rumah secara bergantian. Mbak Yuyun bahkan tak pulang seharian, dan tak henti terus merayu Sri untuk membatalkan niat.
Sejak dulu Sri memang paling dekat dengan Mbak Yuyun. Mungkin karena Mbak Yuyun adalah mbaknya yang usianya terdekat dengannya, hanya selisih 4 tahun saja, maka itulah sejak dulu ia sering mengadu padanya.
“Sebaiknya engkau pikirkan lagi, Dhek,” ujarnya sambil menggendong anaknya yang baru berumur beberapa bulan. “Kamu tahu sendiri kan, bila akhir-akhir ini, Ayah sudah sakit-sakitan? Kamu tentu tak ingin membuat ayah bertambah sakit karena memikirkanmu kan?”
Sri terdiam, “Tapi, Mbak, Sri kan…”
“Bukankah menjadi penyanyi di restoran itu sudah cukup membuatmu senang? Engkau hanya perlu mencari beberapa restoran lagi untuk menambah pemasukan.”
Sri menggeleng, “Tidak mungkin, Mbak. Di kota tak banyak restoran seperti itu. Kalau pun ada, mereka telah memiliki penyanyi sendiri.”
Mbak Yuyun nampak putus asa. Tapi Sri merasa lebih tak enak lagi. Maka diam-diam, Sri pun memutuskan untuk beranjak dari hadapannya, dan segera keluar dari rumah. Ia melewati pekarangan untuk sampai di pagar bambu yang ada di samping rumah. Lalu setelah melewati sebuah celah bambu yang patah, Sri sampai di pekarangan rumah Patra.
Sri melihat Patra nampak berada di belakang rumah. Ia tengah memberi makan ayam-ayamnya. Sejenak kaki Sri terhenti beberapa meter di belakangnya, hanya melihat punggungnya.
Patra segera menyadari kehadirannya. Ia tersenyum dan segera menyudahi pekerjaannya. Setelah menimba air untuk mencuci tangannya dengan gayung batok kelapa, ia mendekati Sri.
“Ada apa sore-sore datang?” tanyanya.
“Semua sudah selesai?” Sri balik bertanya.
Patra mengangguk.
“Aku ingin sekali ke candi,” ujar Sri.
Patra hanya mengangguk, “Ayok, akan kutemani kamu ke sana.”
Yang disebut candi sebenarnya hanyalah sebuah hutan kecil yang ada di antara sawah-sawah milik keluarga Patra. Di situ terdapat beberapa patung batu yang sudah tak terlihat jelas bentuknya. Itulah yang kemudian membuat hutan kecil tak ikut diratakan menjadi persawahan, dan orang-orang sejak itu menyebutnya candi.
Sejak kecil, Patra dan Sri sudah sering menghabiskan waktu di sana. Ada sebuah tempat yang dipenuhi beberapa pohon waru yang berdaun lebar, membuat suasana begitu teduh. Beberapa batu-batu besar pun nampak ada di beberapa sudut, sehingga bisa dijadikan tempat duduk yang nyaman.
Sri duduk di hamparan rumput sambil memandangi ranting-ranting pohon. Beberapa ekor kutilang dilihatnya sedang bertengger di sana, seakan tak terganggu oleh kehadiran mereka.
Patra duduk di sebelah Sri.