Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #6

#5 - Mbak Sariyem

Jegejes... jegejes… jegejes…

Suara kereta semakin lama semakin berirama. Suara-suara hiruk pikuk yang semula begitu terasa semakin lama semakin hilang, menyatu dengan irama kereta.

Sri menatap jendela dan melihat pohon-pohon seperti berlarian ke belakangnya, seakan-akan ia meninggalkan semua yang ada. Saat ini, ia duduk dalam satu kotak di tengah-tengah gerbong bersama Mbak Sariyem dan Mbak Surti. Namun Zus Mintje bersama Mas Subowo memilih duduk agak jauh dari mereka.

“Engkau tak pusing melihat terus keluar?” Mbak Sariyem yang duduk di depan Sri menegur, mencoba membuat percakapan.

Sri menggeleng. Sebenarnya Sri masih enggan berbincang. Ia masih merasa begitu sedih, tapi ia menyadari terus berdiam diri malah akan membuatku semakin sedih.

“Aneh, aku selalu merasa pusing melihatnya. Dan kupikir semua orang pun begitu. Ternyata hanya aku saja yang begitu.” Ia tersenyum.

Melihat gaya senyumnya yang sedikit melipat bibirnya membuat Sri langsung menyukai Mbak Sariyem. Entah mengapa, walau wajahnya berbeda sekali, tapi tetap saja mengingatkanku pada Mbak Yuyun.

“Engkau pasti sedih meninggalkan semuanya?” tanyanya lagi.

Sri mengangguk. “Mbak juga begitu?”

Ia tertawa. Tak menjawab. Namun nadanya terasa getir. Kelak Sri akan tahu kenapa ia tertawa seperti itu.

Mbak Sariyem mencondongkan tubuhnya pada Sri. “Kenapa ya, kuperhatikan dengan rambut dilepas seperti itu, engkau nampak seperti masih terlalu kecil untuk melakukan  perjalanan panjang ini?” Ia menoleh pada Mbak Surti meminta tanggapan.

Mbak Surti hanya mengangguk saja mengiyakan.

“Sebaiknya kau ikat rambutmu seperti ini,” ia menoleh sekilas menunjukkan gulungan rambutnya.

Sri pun menurut.

Dan hanya beberapa menit berselang, Sri sudah menjadi akrab dengan Mbak Sariyem.

Satu hal yang langsung Sri suka dari Mbak Sariyem adalah ia selalu berusaha melucu di sepanjang perjalanan ini. Tak sering Sri menemui seseorang seperiang Mbak Sariyem. Umurnya mungkin 22 tahun. Tubuhnya ramping, dengan wajah bulat dan rambut panjang diikat. Namun walau sudah cukup dewasa, gayanya sepertinya masih terlihat 5 tahun lebih muda dari itu.

Di kereta ia tak habis-habisnya bercerita dan melucu. Seperti saat kereta berhenti lebih lama di sebuah stasiun. Dengan santai Mbak Sariyem berkata, “Masinisnya pastilah sedang bertanya arah pada tukang andong.”

Atau saat kami melihat beberapa penumpang baru bergegas ke depan, dengan santai Mbak Sariyem berujar, “Mereka sangka dengan duduk di depan, mereka bisa sampai lebih dahulu...”

Atau saat kondektur kereta mulai men-crek-crek-kan alat pelubang karcis di depan kami. Mbak Sariyem dengan cepat berbisik, “Gayanya seperti tukang cukur keliling...”

Dan kami akan menahan tawa tak henti-henti. Mbak Surti yang sebenarnya selalu nampak diam pun, jadi ikut terus-terusan tersenyum lebar.

Berbeda dengan Mbak Sariyem, Mbak Surti sangatlah pendiam. Sepanjang perjalanan suaranya nyaris tak terdengar. Ia benar-benar tak banyak bicara, paling hanya menjawab pertanyaan dengan singkat atau tersenyum tipis saja saat digoda Mbak Sariyem. Tak pernah rasanya Sri melihat dirinya memulai pembicaraan atau tertawa lepas.

Lihat selengkapnya