Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #7

#6 - Orang-orang yang Membelah Hutan

Patra sedang berkumpul dengan Kardi, Darto dan Sumojo. Ketiganya adalah kawan sepermainannya sejak kecil. Kardi adalah yang tertua, di antara mereka ialah yang nampak berkumis paling tebal. Hanya saja ia menganggur, dan masih mencari kerja ke mana-mana. Darto lain lagi. Ia nampaknya yang berkuliyt paling putih. Mbah buyutnya konon orang Sumatera jadi kulitnya tak terlalu sawo matang. Ia sudah bekerja menjaga toko milik keluarganya di Pasar Wage. Sedang Sumojo adalah si serba bisa. Ia bekerja beberapa pekerjaan sekaligus. Pagi hari ia menjadi tukang cukur. Siang hari bisa menjual legen dan sore harinya bisa dimintai tetangganya ke kota untuk urusan apa saja.

Satu yang pasti mereka semua juga berencana seperti Patra untuk ikut salah satu program dari Jepang, namun mereka masih sebingung Patra untuk menentukan pilihannya, tapi saat itulah Pak Boro, Kepala Desa mereka datang untuk nimbrung.

“Kalau kalian tak bermaksud pergi lama-lama, ikut Romusha saja!” Kepala Desa Nampak meyakinkan. Jauh lebih meyakinkan dari pidato Bung Karno. “Ini hanya pekerjaan membangun benteng, membangun jalan, membangun jembatan, di sekitar sini saja. Tapi walau namanya tenaga sukarela, dan kalau sukarela kan kita tahu ndak ada uangnya, tapi khusus dari orang-orang desa sini katanya bisa diupayakan upahnya. Nah, lumayan pastinya untuk anak-anak muda seperti kalian. Satu yang menyenangkan lagi, saat selesai, kalian bisa pulang ke sini lagi. Bayangkan kalau kalian ikut yang lainnya, kalian akan bertahun-tahun meninggalkan desa, dan…. mana ada upahnya lagi…”

Kardi, Darto dan Sumojo pun mengangguk-angguk. Detik itulah mereka memutuskan untuk ikut Romusha.

 

***

 

Tak butuh untuk mempersiapkan semuanya.

Keempat anak muda ini sudah berangkat beberapa hari kemudian. Awalnya mereka datang ke kota dan beberapa pemuda lainnya datang bergabung bersama mereka. Ternyata dari desa lain -Patra baru menyadari- tak hanya pemuda yang direkrut, namun juga orang-orang dewasa.

Tiga orang baru tersebut ada yang berasal dari desa sebelah. Patra bahkan mengenal salah satunya yang seumur dengannya. Namanya Satrio, ia biasa membeli gabah dari Ayahnya.

Jadi saat itu Patra mencoba bertegur sapa. Awalnya Patra hanya ingin bicara yang ringan-ringan saja, namun di satu kesempatan, Satrio sempat mengepalkan tangannya ke udara, “Saudara tua kita sudah datang jauh-jauh membantu kita, tentu kita wajib membantu mereka pula!” ujarnya dengan suara penuh keyakinan.

Lihat selengkapnya