Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #8

#7 - Lelaki Jepang dengan Bekas Luka Bakar di Wajah

Sri dan rombongannya tak langsung berangkat ke Borneo. Tapi menginap beberapa hari lebih dahulu di Surabaya. Kata Zus Mintje, ia masih harus menunggu beberapa orang lagi sebelum semuanya diberangkatkan Bersama-sama.

Untuk membuang waktu, Sri dan Mbak Sariyem biasanya berjalan-jalan di pusat-pusat keramaian. Dari hotel letaknya tak terlalu jauh, bahkan di ujung perempatan, mereka menemukan ada sebuah gedung layar hidup. Sri sebenarnya ingin sekali menonton. Di kota Patra pernah mengajaknya menonton saat ia berulang tahun yang ke-14 tahun. Sri masih hapal pemain-pemainnya, ada Miss Rukiyah, Miss Ribut, juga Miss Titin. Selain berakting, ternyata mereka juga menyanyi, dan itu membuat Sri

Tapi sayangnya uangnya tak cukup untuk membeli tiket. Jadi Sri dan Mbak Sariyem hanya bisa melihat-lihat orang-orang yang mengantri tiket di loket dari kejauhan. Sri tahu  saat itu, memang hanya orang-orang kaya saja yang bisa masuk ke tempat itu.

Di hari kedua, beberapa orang yang ditunggu sudah datang. Namanya Mbak Imah dan Mbak Ayu. Dua-duanya datang dari Malang dan semuanya penyanyi dan berniat bergabung pula dengan grup sandiwara. Saat pertama kali kami berkenalan, keduanya tak langsung menyebutkan nama.

Mbak Imah malah langsung berdendang untuk mengenalkan diri. “Sayaaaaa iniiii... biasaaaa dipanggil Imaaaaah...”

Disambung Mbak Ayu mengikuti nadanya, “Kalauuu sayaaaaaa, dipanggil Ayu, Ayuuu, Ayuuuuuu...”

Sri tersenyum senang melihat keduanya. Mbak Ayu dan Mbak Imah secara bergantian bersahutan dengan harmoni yang pas. Sepertinya keduanya telah terbiasa bernyanyi duet. Suaranya merdu. Terutama Mbak Ayu, yang suaranya sangat merdu, dan wajahnya juga sangat sesuai dengan namanya: ayu.

Ya, Mbak Ayu memang berwajah sangat cantik. Dengan pakaian kebaya corak bunga mawar dengan warna ungu terang dan jarik panjang dengan motif semen romo, ia nampak seperti putri kraton. Mbak Sariyem sendiri saat pertama kali bertemu langsung berkomentar; “Aduuuh, ayuneee.”

Baru sehari di sini saja, Mbak Ayulah yang selalu menarik perhatian para lelaki di antara kami. Seorang lelaki yang kepincut dengannya, bahkan tak malu-malu berkata, “Orang kog ayune kaya bidadari.” Tapi Mbak Ayu selalu menanggapi semuanya dengan biasa.

Mbak Ayu dan Mbak Imah ternyata sebenarnya datang dari Yogyakarta. Tapi mereka mampir ke Malang untuk untuk suatu keperluan. Mbak Imah dari Wirobrajan. Ayahnya seorang pekatik, atau tukang merawat kuda, di salah satu keluarga kraton. Sebelum ke sini, ia bekerja di sebuah pabrik pemintalan. Sedang Mbak Ayu dari Taman Sari. Tak banyak yang Sri ketahui tentang Mbak Ayu, karena ia memang tak banyak bicara, terutama perihal keluarganya. Namun saat dipancing-pancing, ia hanya berkata, “Sejak ibu meninggal setahun lalu, aku ini sudah tak punya siapa-siapa. Jadi tak ada yang bisa kuceritakan pada mbak-mbak lainnya.”

Keadaan hotel pun bertambah ramai. Hotel yang semula sepi, mulai nampak bersuara. Terlebih saat Mbak Pur, Mbak Kasmi dan Retno datang dari Ambarawa. Yang terakhir ini sengaja tak kupanggil mbak, karena Sri yakin umurnya pastilah masih sangat muda. Bahkan pasti ada di bawahku.

Saat kami berdua saja, Sri langsung bertanya padanya, “Pasti umurmu tak lebih dari 14 tahun!” ujarku.

Retno tersenyum. Ia tahu tak bisa mengelak, “Dari mana engkau tahu?”

Sri pun berbisik, “Karena... aku pun baru berumur segitu.”

Retno mendengus, “Padahal aku sudah berusaha nampak dewasa. Aku sudah pakai jarik milik ibu dan mencoba tak banyak bicara supaya suaraku yang cempreng ini tak terdengar. Aku bahkan sudah melatih menggunakan sepatu hak tinggi.”

Mata Sri sedikit membulat. “Engkau... punya sepatu hak tinggi?” tanyanya tak percaya.

Retno mengangguk.

“Tapi semuanya sia-sia saat aku bicara. Suaraku masih terdengar sangat kekanakan ya?”

Sri mengangguk setuju.

“Ah, andai ada obat yang bisa merubah suara...”

Dan ucapan itu membuat kami tertawa bersama.

Sebenarnya suara Retno tidaklah cempreng. Suaranya tinggi, bahkan Sri yakin lebih tinggi dari suara Mbak Imah dan suara Mbak Ayu. Sri sampai bisa membayangkan saat Retno menyanyi. Jangkauan nadanya pastilah sangat lebar. Ia pasti bisa bernyanyi seriosa yang sulit dipelajarinya.

 

***

 

Sehari kemudian, ada lagi 4 orang perempuan datang di hotel ini. Namun Sri hanya berkenalan singkat saja dengan mereka, karena mereka menginap di lantai bawah.

Terlalu lama menunggu, membuat Sri merasa bosan juga. Pernah suatu kali, saat hanya tengah berdua saja dengan Mbak Sariyem, ia mengeluh, “Menurutku ini terlalu lama.”

Mbak Sariyem bersenyum. “Engkau pasti sudah kangen dengan orang-orang di rumah ya?” ia menunjuk hidung Sri dengan telunjuknya.

Sri hanya bisa melipat bibirnya.

“Kau pasti mengingat masmu itu ya? Pacarmu?”

Sri menggeleng, “Ah, Mbak ini. Mas yang mana? Mana ada pacar… Itu hanya masku... masku saja”

Mbak Sariyem tertawa. “Nada jawabanku kog ndak yakin begitu?”

“Tak yakin gimana?”

Mbak Sariyem makin tertawa.

“Ia memang masku yang selalu menemaniku di sana, Mbak. Sudah kuanggap kakakku sendiri.” Sri berusaha meyakinkan Mbak Sariyem.

“Tapi, sekarang kamu terus mengingatnya kan?”

Sri tak langsung menjawab, “Yaaa, ndak juga sih. Cuma... kalau melihat orang yang berboncengan sepeda, ndak tahu kenapa Sri jadi sering teringat padanya. Dulu dia selalu memboncengkanku bila ke kota.”

“Hihihi... tresno jalaran seko kulinooo...” Mbak Sariyem tersenyum, mengulang salah satu ungkapan Jawa yang artinya; cinta datang karena kerap bertemu

Saat kami sedang berbincang itulah, tanpa sengaja mata Sri melihat sesuatu pemandangan di sebuah gang kecil yang agak tersembunyi dari keramaian. Di sana beberapa orang tengah mengelilingi seseorang yang nampak telanjang.

Sri tentu saja terkejut. Secara reflek Sri berteriak. Tapi teriakannya hanya pendek saja, karena Mbak Sariyem cepat-cepat menarik tangannya untuk menjauh.

“Jangan ikut campur urusan orang!” bisik Mbak Sariyem.

Tapi ternyata teriakan Sri sudah cukup membuat para pemuda-pemuda itu terkejut, dan membuat mereka segera lari meninggalkan orang yang tergeletak telanjang di tanah berlumpur itu.

Sri segera saja melepaskan pegangan tangan Mbak Sariyem. Didekatinya orang itu dengan berlari kecil. Tak dihiraukan teriakan Mbak Sariyem yang mencegahnya.

Ketika dekat, baru kusadari bila ternyata orang yang ditinggalkan tergeletak di jalan itu adalah orang asing. Seorang Jepang.

“Engkau tak apa-apa?” tanya Sri sambil membungkuk.

Ia tak menjawab. Dengan tenaganya yang tersisa, ia berusaha bangkit. Baru saat itulah Sri melihat wajahnya penuh dengan luka. Pelipisnya bahkan mengucurkan darah yang mengotori hampir seluruh wajahnya. Pemuda-pemuda tadi ternyata selain mengambil baju dan barang-barangnya, juga memukulinya.

Lihat selengkapnya