Menjelang dini hari, truk itu akhirnya berhenti. Perjalanan panjang yang menyiksa pun akhirnya selesai.
Satu-persatu orang di dalam truk mulai turun, termasuk Patra.
Kini di depannya berdiri beberapa rumah yang ada di hamparan tanah yang ada di dekatnya, dengan beberapa bangunan rumah kayu yang terlihat berjarak cukup jauh satu dengan lainnya. Sebuah rumah yang ada di depan nampak cukup besar dan terbaik di anatar rumah-rumah lainnya. Jelas itu adalah rumah utama di sini, tempat pemimpin kamp ini. Sedangkan rumah-rumah lainnya -yang ada jauh di belakang rumah utama- nampak dibuat asal-asalan. Itu pastilah barak-barak para pekerja!
“Ini… kamp romusha!” Sebuah suara terdengar di belakang Patra, tapi ia tak tahu siapa yang berkata.
Seorang tantara Jepang menyuruh mereka berjalan ke arah sebuah rumah. Dari arahnya nampak jelas rombongan ini menuju rumah paling ujung di belakang. Itu adalah Barak 3.
Bersamaan langkah-langkah Patra ke sana, terdengar suara lempengan besi yang dipukul berkali-kali -sebagai tanda waktunya bangun pagi.
Tank! Tank! Tank! Taaank!
Patra melirik ke ufuk timur. Matahari belum juga muncul. Hanya semburat merahnya saja yang mulai terlihat samar. Namun seiring langkah mereka terus ke belakang, mulai terdengar satu intro lagu dari speaker yang dipasang di atap rumah utama, intro lagu Mars Romusha yang belakangan ini memang sering diputar di radio-radio. Disusul liriknya yang bersemangat…
Bekerja, bekerja, bekerja
Tenaga semua sudah bersatu
Mesin pabrik berputar terus
Palu godam, suara gemuruh
Semua bekerja giat gembira
Tenaga pekerja teguh bersatu
Gugur hancur kaum sekutu
Bekerja bekerja bekerja
Tiada satu bertopang dagu
Di tengah sawah penuh berlumpur
Tani membajak mengayun cangkul
Semua petani giat gembira
Tenaga pekerja teguh bersatu
Gugur hancur kaum sekutu
Bekerja bekerja bekerja