Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #9

#8 - Kamp Romusha

Menjelang dini hari, truk itu akhirnya berhenti. Perjalanan panjang yang menyiksa pun akhirnya selesai.

Satu-persatu orang di dalam truk mulai turun, termasuk Patra.

Kini di depannya berdiri beberapa rumah yang ada di hamparan tanah yang ada di dekatnya, dengan beberapa bangunan rumah kayu yang terlihat berjarak cukup jauh satu dengan lainnya. Sebuah rumah yang ada di depan nampak cukup besar dan terbaik di anatar rumah-rumah lainnya. Jelas itu adalah rumah utama di sini, tempat pemimpin kamp ini. Sedangkan rumah-rumah lainnya -yang ada jauh di belakang rumah utama- nampak dibuat asal-asalan. Itu pastilah barak-barak para pekerja!

“Ini… kamp romusha!” Sebuah suara terdengar di belakang Patra, tapi ia tak tahu siapa yang berkata.

Seorang tantara Jepang menyuruh mereka berjalan ke arah sebuah rumah. Dari arahnya nampak jelas rombongan ini menuju rumah paling ujung di belakang. Itu adalah Barak 3.

Bersamaan langkah-langkah Patra ke sana, terdengar suara lempengan besi yang dipukul berkali-kali -sebagai tanda waktunya bangun pagi.

Tank! Tank! Tank! Taaank!

Patra melirik ke ufuk timur. Matahari belum juga muncul. Hanya semburat merahnya saja yang mulai terlihat samar. Namun seiring langkah mereka terus ke belakang, mulai terdengar satu intro lagu dari speaker yang dipasang di atap rumah utama, intro lagu Mars Romusha yang belakangan ini memang sering diputar di radio-radio. Disusul liriknya yang bersemangat…

 

Bekerja, bekerja, bekerja

Tenaga semua sudah bersatu

Mesin pabrik berputar terus

Palu godam, suara gemuruh

Semua bekerja giat gembira

Tenaga pekerja teguh bersatu

Gugur hancur kaum sekutu

Bekerja bekerja bekerja

Tiada satu bertopang dagu

Di tengah sawah penuh berlumpur

Tani membajak mengayun cangkul

Semua petani giat gembira

Tenaga pekerja teguh bersatu

Gugur hancur kaum sekutu

Bekerja bekerja bekerja

Lihat selengkapnya