Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #10

#9 - Malam Terakhir di Surabaya

Sepulang dari pemeriksaan, Zus Mintje tak lagi terlihat. Sampai esok harinya pun ia tetap tak terlihat. Sebenarnya Sri ingin sekali mengobrol dengannya, hari-harinya di hotel terasa membosankan. Ia lebih sering duduk di lobi hotel daripada berdiam di dalam kamar. Untung di hotel ini ada beberapa orang beru kemarin, sehingga ia bisa berkenalan dan mengobrol dengan mereka, atau kalau pun mereka tak ada, pegawai-pegawai hotel ini juga cukup ramah untuk menemaninya ngobrol.

Seperti hari ini, sambil mengobrol dengan salah satu pegawai hotel, Sri mendengarkan suara radio yang ada di ujung ruangan. Radio berbentuk seperti lemari kecil itu terdengar sangat lantang, snagat berbeda dengan radio milik Mas Patra yang kecil. Bahkan radio yang ini, saat Sri ada di dalam kamarnya, ia masih mendengar sayup-sayup suaranya.

Saat Sri serius mendengarkan berita yang disiarkan Sedenbu -atau badan propaganda Jepang di Indonesia- pegawai hotel ini tanpa diminta, segera mengeraskan volume.

 

“Berita berikut merupakan berita dari Sedenbu. Pemerintah Jepang berencana akan membentuk suatu himpunan sandiwara bernama Jawa Engeki Kyokai, atau Perserikatan Usaha Sandiwara Jawa untuk mendukung kesenian di tanah Jawa. Perserikatan ini nantinya akan bertugas sebagai perhimpunan berbagai perkumpulan sandiwara, menyelenggarakan berbagai pertunjukan, dan menyusun cerita sandiwara untuk kemudian dibagikan serta dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang masuk dalam anggota perserikatan. Perserikatan inilah yang nanti akan mengadakan berbagai pertunjukan di kota-kota besar, seperti Bandung, Surabaya, Malang, Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Pertunjukan-pertunjukan ini akan dilakukan  serentak dan dimainkan oleh perkumpulan sandiwara yang selama ini sudah ada, seperti Bintang Surabaya, Cahaja Timur, Bintang, Warnasari, Dewi Mada, Pancawarna, Nusantara, dan Sinar Sari.” 

 

“Engkau nampak serius sekali mendengarkannya?” pegawai hotel itu membuka percakapan. “Apa mbak menyadari kalau sejak Jepang berhasil mengusir Belanda di Kalijati. semua siaran radio selalu berbahasa Indonesia? Tak ada lagi yang berbahasa Belanda?”

Sri mengangguk seakan baru menyadarinya. Sebenarnya yang tengfah ia pikirkan tentu bukan itu. Ia memikirkan seperti apa perkumpulan sandiwara yang akan ia ikuti esok di Borneo? Dan apakah perkumpulan sandiwara itu juga akan bergabung di Jawa Engeki Kyokai? Namun ucapan pegawai hotel tadi membuatku berpikir kalua dulu memang ia kerap mendengar radio dengan berbahasa Belanda. Ia bahkan hapal beberapa lagu Belanda dan pernah mencoba menyanyikannya atas permintaan pengunjung-pengunjung Belanda. Tapi sekarang memang tak ada lagi. Orang-orang sepertinya menjadi benci semua yang berbau Belanda. Walau Sri pribadi berpikir kalau setiap orang tak bisa membenci sebuah bangsa secara keseluruhan. Memang sejak dulu Sri sudah banyak mendengar tentang kekejaman Belanda sejak lama, tapi orang-orang Belanda yang dikenalnya merupakan orang-orang yang cukup baik. Ada satu yang bekerja sebagai dokter, ia anggap sangat berjasa bagi penduduk desa karena membuat pemeriksaan gratis. Belum lagi Mijhneer Groen, di mana ayah dulu bekerja, merupakan seorang pimpinan di perusahaan gula terbesar, yang tak jarang datang ke desa-desa membagi roti dan mentega kepada penduduk. Melihat mereka, sama sekali tak ada gambaran jahat yang selama ini ia dengar. Bukankah seseorang, siapa pun dia dan dari negara mana pun ia berasal, bisa dilahirkan menjadi jahat atau pun baik?

Saat itulah Retno kemudian muncul.

“Kucari-cari, ternyata engkau di sini,” ujarnya pada Sri.

“Kenapa mencariku?” tanya Sri.

Retno segera menarik Sri agak memisah dari penjaga hotel.

“Tidak apa-apa,” ia tersenyum. “Aku masih merasa senang saja karena berhasil mengelabui mereka soal umur saat pemeriksaan itu.”

Sri mengangguk dan ikut tersenyum. “Aku juga,” sambungnya.

“Aku masih tak mengerti mengapa mereka menanyakan soal umur,” ujatr Retno lagi. “Bukankah seharusnya mereka hanya mengecek suara kita saja?”

Sri mengangguk setuju. Di saat itulah, tiba-tiba muncul seorang lelaki dengan pakaian rapi yang langsung mendekat pada Sri dan Retno. Ia ternyata adalah Bapak Subowo, orang kepercayaan Zus Mintje, yang beberapa hari yang lalu ikut bersama mereka.

Ia mendekat dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.

”Selamat siang, Nona-nona,” ujarnya sambil melebarkan senyumnya. “Mulai sekarang, aku yang ditugaskan Zus Mintje untuk mengantar nona-nona semua ke Borneo,” ujarnya. “Tolong sampaikan pada teman-teman lainnya, bila kita akan berangkat besok.”

 

***

 

Dari arah dermaga, kapal Kencana nampak sangat besar.

Sri sampai melongo memandangnya tak percaya. Mbak Sariyem yang melihatnya, segera menyenggol tangannya. “Kamu ini, jangan melongo seperti itu!” bisiknya. “Keliatan sekali kalau kamu dari desa!”

Lihat selengkapnya