Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #11

#10 - Hari Sebagai Pekerja Romusha Dimulai

Menjelang siang, Yono Bejo membawa rombongan baru itu keluar dari kamp. Beberapa tantara Jepang mengikuti mereka. Sebelum keluar kamp, semua ornag diperintahkan membawa alat-alat yang sudah disediakan. Ada pacul, sekop, gergaji, golok, dan wadah bambu yang biasa dipakai para tukang.

Patra mengambil sekop dengan perasaan bertanya-tanya. Ia ingat tadi sebelum tidur, Darto sempat memuji para orang-orang Jepang ini. Namun tak lebih dari 4 jam beristirahat, para tantara itu toh tetap membangunkan mereka, bahkan langsung menyuruh mereka mengambil alat-alat kerja, untuk mereka bekerja saat ini juga!

Darto yang berjalan di sebelah Patra menguap, “Masih mengantuk?” tanyanya pada Patra, namun itu lebih cocok sebagai pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Belum sempat Patra menjawab, seorang tantara Jepang berteriak, “Damare!”

Lalu Yono Bejo cepat-cepat menyambung, “Diam! Semua diam! Jangan berisik!” serunya. “Tak ada yang bicara selama kerja! Kalian paham?”

Lalu tak ada lagi yang bicara di perjalanan mereka.

Dalam hati Patra mendengus kesal. Sebenarnya tadi mereka tak berisik. Tentu saja mereka semua baru tiba di sini, banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Seharuanya ornag-oornag Jepang itu memberi pengarahan dulu pada mereka, bukannya langsung menyuruh mereka bekerja begitu saja.

Namun perjalanan mereka tak terlalu jauh. 5 menit berselang, mereka sudah melihat rombongan lain bekerja, ada yang memotong pohon, meratakan jalan, membawa batu-batu, dan lainnya. Jelas sekali mereka tengah membuat sebuah jalan.

Yono Bejo kemudian membawa mereka ke sisi lain tak jauh dari rombongan itu bekerja.

“Kalian mulai dari sini!” teriak Yono Bejo. “Kau, kau dan kau, potong pohon-pohon itu!” Ia menunjuk ke beberapa orang. “Lalu kau, kau dan kau juga, mulai ratakan batu-batuan ini!”

Lalu satu demi satu dari rombongan itu diberi tugas. Patra sendiri kebagian tugas untuk meratakan jalan berbatu. Ia pikir itu tugas yang tak seberat tugas lainnya. Saat semua ornag sedang beranjak ke tempat masing-masing, lagi-lagi tantara Jepang yang tadi berteriak kembali berteriak, “Yatte mimashou!”

Yono Bejo kembali ikut berteriak, “Ayo! Cepat!”

Lalu di bawah sinar matahari yang mulai bergerak tepat di atas kepala, mereka mulai bekerja. Sekilas Patra melihat Kardi, Darto yang kebagian tugas menebang pohon, sementara Sumojo mengambil baru-batu untuk diletakkan di tempat yang direncanakan akan dijadikan jalan.

Mereka semua mulai bekerja. Para serdadu Jepang yang ada menyebar di antara mereka, terus berteriak-teriak tanpa henti. “Yatte mimashou!”

Saat semua tengah bekerja itulah datang seorang Jepang yang merupakan pemimpin di kamp ini. Namanya Tomo Yamaguchi ia datang dengan dikawal oleh beberapa tantara Jepang lainnya.

Matanya yang tajam memperhatikan semuanya. Patra sempat melihat ke arahnya, namun cepat-cepat ia melanjutkan pekerjaannya demi melihat seorang tentara Jepang di dekatnya melotot ke arahnya.

Tomo Yamaguchi adalah komandan yang mengawasi pembangunan jalan di sepanjang wilayah ini. Walau Nampak berwajah keras, sebenarnya usianya masih tergolong muda. Baru 29 tahun. Namun karirnya dianggap cukup cemerlang, karena sifatnya yang keras dan berani mengambil resiko.

Sebenarnya dulu dulu adalah laki-laki yang lembut. Ia menyukai sastra dan puisi. Namun tubuhnya yang besar -lebih besar dibanding kawan-kawan seusianya- membuat orang-orang banyak meminta tolong padanya. Sejak itulah ia menyadari kelebihannya, dan tahu kalau ia tak lagi bisa menjadi laki-laki lembut seperti selama ini.

Saat umurnya 17 tahun, Tomo Yamaguchi mendaftar sebagai tantara. Karena tubuhnya yang besar pulalah, karirnya cepat menanjak. Saat berlatih duel berkelahi, kawan-kawannya selalu merasa takut lebih dulu, sehingga mereka dapat dengan mudah ditaklukkan oleh Tomo Yamaguchi.

Kini ialah orang yang mengepalai kamp Romusha di sini. Tak hanya di sini, namun di sembilan wilayah lainnya.

 

***

 

Saat waktunya istirahat, Patra mendapati mereka hanya memakan nasi aking dengan tempe bacem yang busuk.

Ini cukup mengejutkan. Ia ingat Kepala Desa Boro yang mengatakan makanan di sini terjamin. Tentu tidak dalam kondisi seperti ini.

Lihat selengkapnya