Sri tak tahu kalau serdadu Jepang sudah tiba di Telawang sejak lama. Mereka datang melalui Banjarmasin dengan dua jalan. Yang pertama pasukan Angkatan Darat -biasa disebut rikugun- berjalan kaki dari utara. Pasukan yang berasal dari Balikpapan terus berjalan kaki, naik perahu, bersepeda, atau naik kuda menembus rute Muara Uya, Tanjung, Amuntai, Barabai, Kandangan dan seterusnya hingga tiba di Banjarmasin pada tanggal 13 Februari 1942. Sedangkan pasukan kedua melalui jalur laut dan mendarat di Jorong. Ini merupakan pasukan dari Angkatan Laut -yang biasa disebut kaigun- yang tiba di Banjarmasin juga pada tanggal yang sama dengan pasukan Angkatan Daratnya.
Sri dan rombongannya ditempatkan di sebuah rumah yang disebut ian-jo. Jelas merupakan rumah yang baru dibangun beberapa beberapa bulan ini. Tempatnya masih nampak bersih, dan sisa-sisa kayu bangunan masih terlihat di beberapa sudut.
Hari pertama di ian-jo, Sri tertidur cukup lelap. Mungkin karena ia merasa sangat kelelahan. Sri baru terbangun, setelah lelaki berjenggot itu mengetuk kamarnya dan memanggil-manggil namanya. Saat itulah Sri tahu kalau nama lelaki berjenggot itu adalah Pak Doyo. Ialah yang ditunjuk untuk mengurus semua di rumah ini.
“Nona Sri, Tuan Takeda ingin bertemu denganmu,” ujarnya.
Sri mengerutkan kening tak mengerti. Kenapa orang Jepang itu ingin bertemu dengannya? Tapi sebelum Sri tak bertanya-tanya lebih jauh. Pak Doyo sudah berbalik dan meninggalkannya. Jadi segera saja ia berlari kecil mengikuti lelaki itu, dengan pakaian yang belum sepenuhnya sempurna.
“Kenapa tiba-tiba orang Jepang yang mengurus kami?” tanya Sri sambil berusaha menjejeri Pak Doyo. “Lalu, kemana Bapak Subowo?”
“Pak Subowo sudah pulang, Nona,” jawab Pak Doyo tanpa menoleh. “Ia sudah menyerahkan semua urusan kepada Tuan Takeda.“
Sri tak tahu lagi harus bicara apa. Ia mengikuti Pak Doyo masuk ke rumah utama. DI depan satu ruangan, Pak Doyo menyuruh sri masuk.
Di sana lelaki Jepang yang kemarin mengenalkan diri sebagai Tuan Takeda, sudah nampak menunggu, sambil menghisap cerutu. Ia menyuruh Sri duduk di depannya, dengan gerakan tangannya.
Sekilas, Tuan Takeda memandang Sri dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. “Engkau… Sri Haniyah?” tanyanya dengan bahasa Indonesia.
Sri mengangguk saja.
“Mulai sekarang, engkau akan dipanggil Sakura,” ujarnya.
Sri mengerutkan kening tak mengerti. “Sakura? Kenapa?”
Tuan Takeda memandang Sri dengan mata tajam. Nampak jelas, ia tak suka dibantah. “Ini perintah!” ujarnya pendek. Lalu dengan gerakan tangannya, ia segera menyuruh Sri pergi.
Sri tak bisa lagi memprotes. Ia tak tahu kenapa harus diberi nama lagi? Tapi setelah dipikir-pikir, kalau hanya sekadar nama panggilan nampaknya bukanlah sebuah masalah. Apalagi nama Sakura juga terdengar cukup bagus. Sri tahu itu nama bunga yang indah di Jepang. Ia pernah melihat beberapa lukisannya.
Tapi apa alasannya mereka mengganti nama Jepang ya? Sri bertanya dalam hatinya. Apa... karena orang-orang Jepang yang banyak datang ke restoran tempatku menyanyi nanti ya?
Sri mulai beranjak untuk berlalu. Namun saat itulah ia tiba-tiba teringat dengan surat kecil yang diberikan pada dokter Takeshi di Surabaya beberapa hari yang lalu.
“Oya, ada yang terlupa,” ujar Sri cepat-cepat sambil mencari surat itu di dompetnya. “Nampaknya ada sesuatu yang nampaknya harus kuberikan.”
Sri segera menyodorkan lembaran kecil itu pada Tuan Takeda. “Tapi aku tak tahu apa isinya,” ujarnya. “Sepertinya semacam resep obat. Tapi dokter Takeshi hanya menyuruhku menunjukkannya pada pengurus di sini.”
Tuan Takeda menerima kertas kecil itu dengan wajah penuh tanda tanya. Ia membaca sekilas. Sri dapat melihat sinar matanya nampak tak percaya membaca surat itu, sambil sesekali menatap wajahku.
“Takeshi-san memberikan ini padamu?” suaranya terdengar tak percaya.
Sri hanya mengangguk. “Hmmm, sebenarnya apa isinya?” tanya Sri ingin tahu.
Tuan Takeda terbatuk beberapa kali. “Bukan apa-apa, bukan apa-apa,” ujarnya berusaha menguasai diri. “Hmmm, jadi... engkau kemari… karena ingin menjadi... penyanyi?”
Sri langsung tersenyum senang. Akhirnya ada juga yang menanyakan tujuannya kemari. “Ya, tentu saja. Bukankah itu yang memang ditawarkan pada sejak awal?”
Tuan Takeda mengangguk-angguk ragu. “Kalau begitu,” ia nampak berpikir sejenak. “mulai sekarang engkau akan menyanyi untuk kami…”
***
Sejak itu orang-orang di rumah besar ini memanggil Sri, Sakura.
Saat makan bersama, Sri baru tahu bila semua perempuan yang ada di sini ternyata diberi nama Jepang. Mbak Sariyem diberi nama Haruye, Mbak Surti diberi nama Ayami, Mbak Ayu diberi nama Miki, dan Retno di beri nama Masako, juga yang lainnya. Hanya Pak Doyo dan Mbok Yah -pembantu dan tukang masak ian-jo- yang tidak diberi nama Jepang.