Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #18

#17 - Upaya Melarikan Diri

Sejak itu, kamar nomor 6 itu kosong!

Jenasah Mbak Ayu dikuburkan di perkuburan yang ada di belakang desa. Sri dan mbakyu-mbakyu lainnya merasa bersyukur bisa melakukan hal ini. Karena dari yang ia dengar dari penggali kubur, biasanya para perempuan jugun ianfu atau pun para romusha, hanya digeletakkan begitu saja di pasar lama yang sudah ditinggalkan, hingga membusuk sendiri.

Hanya Sri dan mbakyu-mbakyu lainnya yang hadir, bersama Mboh Yah dan Pak Doyo yang mengamati dari jauh. Tak ada seorang pun penduduk yang terlihat, walau mereka tahu iring-iringan ini.

Satu sisi di diri Sri merasa gembira, karena ia dan mbakyu-mbakyu lainnya bisa mendoakan Mbak Ayu di peristirahatan terakhirnya. Mbak Ayu memang tak lagi memiliki siapa-siapa, namun sekarang merekalah keluarga baginya. Mereka pula yang akan menghantarkan doa baginya dan akan menyisakan ruang di hati buat kenangan bersamanya, walau itu singkat saja.

Sejak itu suasana ian-jo semakin sepi. Tak ada lagi tawa-tawa riang yang mengisi hari-hari. Kehidupan seakan melambat. Matahari bersinar lebih lama, kupu-kupu berkepak lebih lambat, dan kelopak-kelopak bunga di depan kamar terasa tak lagi menguntum dan tak pula menaburkan wangi.

Sementara suasana di Telawang menjadi lebih menakutkan. Beberapa kali Sri mendengar suara ledakan bom-bom yang dijatuhkan dari pesawat sekutu di dekat ian-jo. Satu bom bahkan meledak di dekat rumah Tuan Takeda.

Keadaan semua orang nampak tertekan. Untuk membuat suasana kembali normal, Tuan Takeda lebih sering memberi mereka waktu luang untuk keluar dari ian-jo.

Walau masih dikawal oleh beberapa serdadu-serdadu Jepang, atau pun kampei-tai, hampir satu minggu sekali penghuni ian-jo dibiarkan berjalan-jalan di pusat keramaian Telawang. Kali ini tak hanya pagi atau siang hari, tapi juga malam hari.

Sri tahu Tuan Takeda melakukan ini karena sama sekali ia baik hati, namun ia tak ingin mereka melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya. Akhir-akhir ini rombongan serdadu Jepang ini hampir beberapa hari sekali datang. Ini tentu sangat merugikan bila satu dari mereka merasa tertekan dan ketakutan, hingga melakukan hal-hal seperti yang dilakukan Mbak Ayu.

Di kali kesekian berjalan-jalan di Pasar Telawang, tanpa diduga Sri kembali bertemu dengan Mas Yoyo, awak kapal yang menolongnya saat mual di atas kapal.

Sungguh, walau sekali bertemu dengannya, Sri tak bisa menahan air matanya di depan laki-laki itu. Ia ingat bagaimana Mas Yoyo merasa ragu dengan ceritanya saat ia menceritakan tentang rencananya ke Telawang.

Kini saat Mas Yoyo tersenyum dan mengulurkan tangannya, Srti bahkan tak bisa menyambutnya.

“Ada apa, Nduk?” Mas Yoyo sengaja memanggilnya dengan sebutan Nduk. “Malu dilihatin orang-orang. Ntar mereka menyangka aku sedang bebuat tak sopan padamu.”

Sri segera tersadar. Ia segera menghapus air matanya dan berusaha nampak senormal mungkin. Beberapa serdadu Jepang yang biasanya berdiri tak jauh dari kami, tak nampakl terlihat. Sri melihat mereka nampaknya sedang asyik membeli minuman tak jauh dari tempatnya.

Sambil berjalan seperti biasa, Sri menceritakan apa yang terjadi pada diri dirinya dan kawan-kawan dari Jawa lainnya.

Mas Yoyo hanya terdiam mematung. Mulutnya sempat ternganga tak percaya.

“Kami semua benar-benar ditipu, Mas,” isak Sri kembali.

Mas Yoyo menarik napas panjang. “Sebenarnya,” ujarnya kemudian, “sejak pertemuan kita di kapal itu, aku sudah menduga apa yang akan terjadi. Terlebih saat kau bercerita akan ke Telawang. Tapi aku berusaha mengabaikannya. aku pikir bisa jadi aku yang salah. Tapi perusahaan kapal kami ini memang sudah dibayar oleh Jepang hanya untuk membawa para pemuda dan pemudi kita yang hendak mengikuti semua program-program Jepang. Jepang sebenarnya awalnya melakukan dengan kapalnya sendiri, tapi semakin hari orang-orang yang mengikuti program mereka semakin banyak, maka itulah mereka membutuhkan kapal-kapal lain. Tugas kami hanya mengantar saja sampai tujuan, setelah itu kami tak tahu apa-apa. Tapi… kami mendengar kalau banyak dari orang-orang yang kami antar itu pada akhirnya  dijadikan romusha atau… para perempuannya dijadkan...” Mas Yoyo tak melanjutkan kata-katanya. Ia nampak merasa sangat bersalah.

 “Ah, aku benar-benar minta maaf tak mengatakan ini semua dari awal. Sebenarnya… aku ingin sekali mengatakannya kala itu. Tapi aku sendiri tak cukup yakin,” ujarnya lagi. “Terlebih saat melihat sinar matamu yang begitu gembira, rasanya aku tak akan mampu mengabarkan dugaan buruk itu. Aku hanya berharap kalau dugaankulah yang salah.”

Sri dan Mas Yoyo terdiam di antara keramaian. Sebenarnya Sri ingin sekali bercerita semua yang terjadi di Telawang. Tentang dirinya yang masih selamat dari perlakuan buruk itu, tentang kematian Mbak Ayu, dan lain-lainnya, namun bibirnya terasa kelu. Terlebih Mas Yoyo pun tak banyak bertanya. Sri menduga, tanpa diceritakan pun, ia pastinya sudah mendengar kisah pahit seperti ini.

Saat para mbakyu-mbakyunya yang lain mulai terlihat mendekat ke arah Sri, Mas Yoyo pun berujar. “Sudah mulai sore, sepertinya kita harus berpisah lagi.” 

Mas Yoyo mengulurkan tangannya. “Aku berharap keberuntungan bisa terus ada padamu. Semoga kita juga diberi waktu untuk bertemu lagi, kuharap waktu itu bukan berisi tangisan seperti sekarang, tapi kegembiraan seperti pertemuan awal kita di kapal.”

Lalu setelah menjabat tangan Sri erat, Mas Yoyo berbalik. Seiring punggungnya yang terlihat menjauh, sebuah pikiran berani tiba-tiba muncul di kepala Sri. Tanpa sadar ia kembali memanggil Mas Yoyo.

“Mas,” ujarku sambil melangkah mendekat padanya.

Mas Yoyo berpaling, “Ada apa, Sri?”

Lihat selengkapnya