seberapa yang tlah kau rentang
seberapa yang tlah kau tampakkan
seberapa yang tlah kau rengkuh
dalam ruang-ruang retak
aku akan selalu datang padamu
untuk bersimpuh
Sri melangkah lebih ke dalam. Namun baru 2 langkah saja kakinya menapak, ia terpaku. Dirasakannya sebuah bayangan tiba-tiba muncul dari balik kegelapan yang samar.
“Engkau sudah datang, Nona Sakura?” sebuah suara yang tak asing terdengar di telinganya.
Sri terperangah. Kakinya tanpa sadar sudah mundur selangkah, seiring suara langkah sepatu di lantai kayu itu yang terdengar di depannya. Lalu dari cahaya bulan yang masuk dari celah-celah genting, senyum Tuan Takeda tiba-tiba sudah nampak di depan Sri.
Kedua kaki Sri seketika lemas. Ia seakan terperosok ke dalam sebuah jurang, dan ini seperti mampu membuatnya benar-benar terjatuh di lantai.
Tuan Takeda menyeringai di depan Sri. “Engkau pastilah sangat terkejut,” tanpa menghentikan langkahnya yang mendekat pada Sri, mata sipitnya berkilat mengerikan.
“Tenang saja, aku tak akan jahat padamu, asal kau menurut,” ia berujar pelan.
Pikiran Sri mendadak kalut. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana Tuan Takeda tiba-tiba bisa ada di sini? Apa ia telah tahu rencana ini? Bagaimana bisa? Bukankah tak ada seorang pun yang tahu selain dirinya dan Mas Yoyo?
Sri kembali menelan ludah. Sebuah pikiran tiba-tiba berkelebat di otaknya. Bayangan kalau ini semua adalah jebakan yang telah disusun oleh Mas Yoyo, begitu saja muncul di pikirannya. Sri bahkan menduga lebih jauh lagi: laki-laki itu adalah salah satu mata-mata yang selama ini disebar Tuan Takeda.
Jantung Sri seakan terhenti!
Tiba-tiba saja kejadian paling buruk terlintas di kepalanya. Terutama saat Tuan Takeda sudah menarik tangannya. Sri meronta dengan sekuat tenaga. Ia bahkan sempat berteriak kencang, namun tangan Tuan Takeda sudah membekap mulutnya dengan lebih kencang lagi. Sungguh, Sri benar-benar tak berdaya. Tenaganya sama sekali bukan lawan tenaga laki-laki ini.
Tuan Takeda hanya tertawa melihat pemberontakan Sri. Dengan mudah, ia menarik Sri ke sebuah ruangan. Sri masih terus melawan, ia bahkan mencoba menggigit tangan Tuan Takeda. Tapi bekapan itu terlalu kuat, dan semakin kuat saja, hingga membuatnya sulit untuj bernapas.
Tuan Takeda kemudian menjatuhkan tubuh Sri ke atas pembaringan yang ada di situ. Sebelum sempat Sri bergerak, tubuh besarnya sudah menindih tubuh Sri, dan menelentangkannya dengan satu tangannya.
Saat wajahnya mendekati, Sri dapat menghirup aroma aneh yang langsung membuat perutnya terasa mual. Tapi Sri tak bisa memperdulikan itu. Ia masih mencoba mendorong tubuh Tuan Takeda sekuat tenaga. Tapi tenaganya memang benar-benar tak berarti apa-apa bagi tubuh di atasnya itu.
Tuan Takeda mulai merobek pakaian Sri!
Sri berteriak keras di antara dekapan tangannya. Ia mulai menangis. Tapi Tuan Takeda seakan tak perduli. Tangan kasarnya kembali menarik kutang yang dipakai Sri. Lalu satu tangannya yang lain mulai menyelinap di balik celana Sri, dan langsung merenggutnya dalam sekali sentakan.
Jantung Sri seakan terhenti. Terlebih saat sesuatu yang asing, seakan menerobos ke dalam tubuhnya.
Sri berteriak lagi. Tapi kali ini teriakannya tak lagi terdengar, selain rintihan perih. Ya, sama seperti air mata, air mata yang tak luruh adalah air mata paling menyakitnya, teriakan yang tak lagi terdengar adalah juga teriakan paling menyakitkan.
Kini Sri benar-benar telah terhempas ke dalam jurang.
Jurang yang paling dalam!
***
Sri tak pernah punya keinginan untuk mati sebelumnya. Kata salah seorang kyai yang selalu menjadi imam di desa, Gusti Allah tak suka perbuatan itu. Itu adalah sebuah dosa besar.
Tapi selepas malam itu, entah mengapa, keinginan itu muncul begitu saja dalam diri Sri. Ia bahkan tak lagi ingat ucapan-ucapannya sendiri dulu. Pernah di desanya ada seorang tetangga yang bunuh diri karena terlilit hutang. Waktu itu Sri dan Patra datang di lelayunya.
Patra hanya mengeluh pelan saat itu, “Kasian dia. Kadang keputus-asaan membuat orang tak lagi bisa berpikir.”
Tapi Sri kemudian berujar pelan, “Tapi bunuh diri tetaplah bukan sebuah jawaban, Mas?”
Kala itu Patra hanya tersenyum saja mengiyakan.
Tapi kali ini, Sri telah melupakan moment itu. Selepas malam itu, keinginan untuk mati tiba-tiba saja muncul begitu saja pada dirinya. Malam jahanam itu sepertinya begitu terpatri di hatinya. Begitu meyakitkan, seperti sebuah belati yang menusuk tepat di hati. Membuat semua harapan seperti lepas, terbang tak berarah.
Malam itu, Tuan Takeda kembali membawa Sri ke ian-jo. Ia sama sekali tak mencambuk Sri, juga tak menghukumnya apa-apa. Semuanya seakan tak terjadi apa-apa. Namun Sri yakin Pak Doyo pastilah telah tahu rencana ini. Sinar matanya yang seperti bercerita pada Sri.
Tapi Sri tak lagi peduli soal itu. Hatinya telah begitu beku, dan perasaannya telah mati. Mbak Sariyem yang tak tahu kejadiannya, hanya bisa memandangnya tak mengerti. Sri pun hanya bisa menangis dalam pelukannya. Pada akhirnya, dengan latar bulan kusam dari pundak kirinya, ia pun menceritakan kejadian naas itu.
Kekelaman hari-hari Sri ternyata tak cukup sampai di situ saja. Beberapa hari kemudian, di hari yang semula ia rasakan seperti hari-hari lainnya, Tuan Takeda kembali datang padanya, dengan sinar mata yang begitu memuakkan.
“Kau tahu,” ujarnya tanpa berbasa-basi, “sebenarnya upaya pelarianmu kemarin bisa membuatku mendapat alasan agar kau diperlakukan sama seperti yang lainnya! Namun ternyata itu tak perlu. Keadaan sudah berubah. Keluarga Harada tak lagi memimpin Pasukan ke-16.”