Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #27

#26 - Manusia Percobaan

Hari ini, giliran lelaki yang tersisa di sebelah lelaki paruh baya itu mati!

Ia sempat berteriak-teriak kesakitan. Urat di lehernya begitu terlihat, seperti akan pecah. Lalu setelah beberapa saat, ia terkulai begitu saja.

Patra sempat melihat lelaki paruh baya itu mengusap air matanya.

“Lebih baik begini,” ujarnya dengan usara serak. “Kau tahu ia anak yang baik, penurut. Aku selalu merasa bersalah, tak bisa menjaganya dengan baik. Harusnya kami bersembunyi di hutan, seperti yang dilakukan beberapa tetangga kami. Tapi aku yakin ia akan selamat. Umurnya baru 15 tahun, dia belum mengerti apa-apa. Kalau ada yang perlu dibawa, biar aku saja yang menggantinya. Tapi Jepang keparat itu tetap membawanya…”

Patra terdiam. Hari ini ia dan Jelu baru mengetahui kalua lelaki muda di sebelah lelaki paruh baya itu adalah anaknya.

Dua serdadu Jepang datang.

Patra terdiam. Ia sempat kaget kenapa kali ini cepat sekali Jepang bereaksi pada kematian. Biasanya bukankah perlu berjam-jam mereka datang? Seakan mereka memang sengaja mengulur waktunya, untuk mengintimidasi orang-orang yang masih hidup.

Tapi Patra kemudian tersadar. Dua serdadu Jepang itu sama sekali tak melihat ke arah sosok yang baru saja meninggal. Mereka malah melihat ke arahnya terus. Jantung Patra seketika lebih berdebar. Ia kemudian sadar, kalau ini gilirannya.

Tanpa bicara, kedua serdadu Jepang itu mendekat pada Patra dan langsung menarik kakinya.

 

***

 

Patra dibawa ke sebuah ruangan gelap. Kedua serdadu Jepang itu mengangkatnya agar ia bisa duduk di kursi yang ada di tengah ruangan. Mereka menelentangkan Patra, lalu mengikat kedua tangan dan kedua kakinya.

“Kalian… mau apa?” Patra mengumpulkan tenaganya yang tersisa untuk bertanya, walau ia tahu serdadu Jepang itu akan mengacuhkannya.

“Hey!” Patra kembali berteriak. Salah satu serdadu Jepang malah menyeringai mengerikan. “Kutabare![1]” desisnya. Lalu segera berlalu dari ruangan.

Patra tak lagi bisa bereaksi apa-apa. Tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pun terasa berat. Yang bisa ia lakukan hanya memejamkan kepalanya untuk menenangkan diri sembari kembali mengumpulkan tenaga. Tapi ia merasa keadaannya setiap hari semakin buruk saja. Kini ia bahkan tak lagi bisa menolehkan kepala. Lehernya terasa sangat kaku.

Beberapa saat kemudian, ia mulai membuka matanya kembali. Ia mulai mengamati sekelilingnya. Ia sadar memang sengaja ditinggalkan di sini, di satu ruangan periksa. Tempatnya berbaring adalah meja periksa, di dekatnya ada peralatan yang tak ia ketahui namanya, juga sebuah meja dan kursi di pojok ruangan, dan sebuah lemari kaca di sebelahnya.

Nampaknya kini gilirannya menjadi kelinci percobaan. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk menerima hal ini. Tapi tetap saja ini membuatnya merasa tak berdaya. Apakah ia akan seperti Darto? Atau Sumojo? Atau ia akan seperti anak dari laki-laki paruh baya itu?

Semuanya menakutkan bagi Patra. Membuat tubuhnya semakin lemah.

Tapi satu yang membuat dirinya tersenyum. Apa pun yang terjadi padanya, akan membuatnya semua kesakitan dan ketakutan ini selesai baginya… Ya, selesai…

Patra memejamkan matanya.

Satu jam berlalu….

Lihat selengkapnya