Sri dan Patra Berjanji Bertemu

Yudhi Herwibowo
Chapter #29

#28 - Kembali Hidup dari Kematian

Apa yang Patra ingat saat matanya terbuka untuk pertama kalinya?

Cahaya matahari dari lubang di ruangannya langsung terasa menyilaukan, membuatnya Kembali menutup matanya. Untuk beberapa saat Patra seperti kehilangan ingatannya tentang apa yang bartu saja terjadi.

Tapi bau busuk yang telah akrab dengannya seperti jadi pemacu ingatannya. Ia mulai ingat dua serdadu Jepang yang menarik kakinya, ruangan di mana ia terbaring dengan terikat tangan dan kakinya, termasuk seorang dokter dan perawat yang kemudian ada di dekatnya.

“Kau sudah sadar?” sebuah suara menyadarkannya. Itu suara lelaki paruh baya. “Syukurlah kau tak langsung mati.”

Patra menoleh. Ia merasa sedikit heran, terakhir kali di sini ia sudah kesulitan menoleh. Lehernya sudah terasa kaku, tapi kenapa sekarang tidak?

“Kalau kau mencari kawanmu, ia sudah mati. Tak lama setelah kau dibawa, ia muntah darah, kemudian… mati. Kupikir ia akan lama di sini, sehingga kau bisa melihatnya, namun rupanya, serdadu Jepang itu sedang rajin. Ia baru saja membawa tubuhnya beberapa saat lalu, entah ke mana…”

Patra terdiam. Ia langsung teringat Jalu. Ini berita yang agak mengejutkan. Sejak mereka masuk dalam ruang terpisah di kamp romusha, keadaan Jalu adalah yang paling baik. Badannya hanya panas, namun tak sampai membuatnya berbaring saja. Ia masih bisa beraktifitas, walau itu sudah ia kurangi, karena badannya yang deman tinggi.

“Cepat sekali ia pergi,” gumam Patra.

“Di sini nyawa memang tak berarti,” tambah lelaki paruh baya. “Tapi… kenapa dirimu nampak lebih baik dari sebelumnya? Apa yang mereka lakukan?”

Patrab menggeleng. “Tadi mereka menyuntikku sekali, setelah itu aku tak sadarkan diri. TIba-tiba aku bangun, dan sudah ada di sini.”

“Kau nyaris pergi seharian, setidaknya itu perkiraanku dari melihat celah udara di sini,” ujar lelakiu paruh baya itu.

“Berarti cukup lama aku tak sadarkan diri…” ujar Patra.

“Berarti kau telah disuntik vaksin. Aku lupa sudah menceritakannya atau belum, tapi sejak Jepang pertama kali datang mereka memang meneliti tentang tetanus. Banyak para pekerja romusha yang meninggal karena penyakit itu!”

Patra mengangguk. Ya, ia bisa menebaknya. Di kamp-nya saja ada beberapa yang terkena, termasuk kawannya Kardi.

“Jangan-janga suntikan itu sudah berpengaruh padamu,” lelaki tua itu memandnag Patra dengan tatapan tak percaya. “Kau bisa jadi sudah disuntuk dengan vaksin yang benar…”

Patra terkejut sendiri. Tapi ucapan itu benar-benar melegakan hatinya. Terlebih saat ia ingat betapa menyakitkannya menit-menit selepas penyuntikan itu. Kini, benarkan ia akan sembuh?

Patra mendesah lega.

“Jangan gembira dulu!” Suara lelaki paruh baya itu mengingatkannya. “Ini, bisa jadi bencana kedua untukmu!”

Lihat selengkapnya