Kali ini kematian rasanya telah begitu dekat menghampiri!
Darah dirasakan Sri mengalir di wajahnya. Entah dari mana, kepala atau keningnya. Sri tak lagi perduli.
Selama ini Sri selalu berpikir tentang kematian. Apa yang dulu pernah dilakukan Mbak Ayu selalu diingatnya. Namun ia selalu merasa tak cukup punya berani melakukannya. Rasa takut selalu menepikannya. Dan secercah harapan -walau begitu samar- masih membuatnya bisa bertahan selama ini.
Tapi tidak sekarang. Bayang-bayang putih seperti sudah menyelimuti Sri. Ia seperti melihat wajah ibu jauh di ujung sana. Sosok yang hanya ia kenali dari sebuah foto usang milik ayah. Kini sambil terus bergerak pelan mendekat, ia tersenyum dan mengangkat tangannya seakan ingin menggapainya...
Dan Sri ikut tersenyum membalasnya. Sepanjang hidupnya ia selalu merindukan Ibunya. Hampir semua kisah-kisah tentangnya dari ayah, atau pun dari saudara-saudara di desa, masih tak lekang di ingatakannya. Bahkan pelukan terakhirnya pun serasa masih begitu hangat di tubuh.
Maka itulah, menghadapi ini, Sri seperti tak lagi merasa takut. Ia bahkan lebih takut bila harus kembali lagi ke ian-jo. Sri ingin bila memang kematian harus datang sekarang, datanglah secepat mungkin.
Sri tak lagi bisa membayangkan apa yang akan dilakukan para serdadu Jepang ini bila Sri masih bernapas.
Dengan gerakan lambat ia melirik kea rah dokter Takeshi yang juga masih terkapar di dekatnya. Ia ternyata juga tengah menatap Sri. Wajahnya telah penuh dengan darah. Sekilas Sri seperti bisa membaca gerakan bibirnya, bila ia meminta maaf karena tak bisa mengantarkannyadengan selamat.
Sri mencoba tersenyum padanya dengan mata perih. Walau pada akhirnya semua berakhir seperti ini, setidaknya ia merasa lega karena telah melakukan upaya terbesarnya untuk lari dari ian-jo. Tentu saja, ia telah siap untuk semuanya!
Perlahan Sri memejamkan matanya.
Sri menunggu suara letusan peluru yang akan menyelesaikannya. Namun yang malah terjadi adalah suara-suara gemeresak yang muncul dari balik semak-semak, disusul dengan teriakan-teriakan panjang...
“SERANG!”
“SERAANG!”
“SERAAANG!!!”
Lalu suara-suara letusan peluru terdengar, disusul suara berdebam beberapa tubuh di dekat Sri.
Sri cepat-cepat membuka mata. Di saat seperti itulah ia melihat beberapa orang muncul dari balik-balik pohon. Mereka bergerak cepat menuju ke arah mereka terkapar.
Sri tak tahu berapa jumlahnya. Namun yang pasti mereka semua menggunakan penutup wajah dengar kain. Hanya bilah golok yang berkilat yang sempat kulihat berkelebatan.
Sri merasakan pertarungan beberapa serdadu Jepang ini dengan mereka. Beberapanya masih sempat meletuskan senapan, namun dengan gerakan cepat, orang-orang bertutup wajah itu sudah menggerakkan golok-golok mereka ke arah para serdadu.
Wuuush... creeettth!
Wuuuuuush... creeeeeeth!!
Satu persatu erangan kematian terdengar, disusul tubuh-tubuh yang bertumbangan di dekat Sri.
Tak berapa lama suasana hening terasa. Seorang dari mereka, yang nampaknya pemimpin dari kelompok ini, mendekati Sri dan mengangkat tubuhnya perlahan.
“Engkau tak apa-apa?” ia bertanya tanpa melepaskan tutup wajahnya.
Sri mengangguk.
Dokter Takeshi yang telah sanggup bangkit mengucapkan terima kasih.
Lelaki bertubuh pendek itu kemudian berkata, “Kalian larilah ke arah sana! Sudah kami siapkan perahu untuk membawa kalian ke Banjarmasin.”
“Kuharap kalian beruntung,” ujarnya lagi.
Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia berbalik badan dan meninggalkan tempat ini, diikuti yang lainnya.
Sri memperhatikan dirinya menjauh. Tiba-tiba ia merasakan mengenal laki-laki tadi. Tubuh pendeknya, suara tuanya, dan cara berjalannya yang setengah pincang, entah mengapa membuatku langsung teringat pada sosok penjaga ian-jo; Pak Doyo!
Tapi Sri tak lagi bisa berpikir lebih panjang, dokter Takeshi sudah mendekat, “Aku tak menyangka kita seberuntung ini,” ujarnya.
Sri mengangguk.
“Semoga keberuntungan ini terus ada,” ujarnya lagi. “Sekarang kita kembali melanjutkan perjalanan.”
Lalu dengan tertatih-tatih, dokter Takeshi dan Sri mulai berjalan menuju ke arah barat.
Di kejauhan Sri seperti melihat warna semburat merah tua yang samar. Sepertinya senja sebentar lagi akan datang.