Dahulu kala, peradaban sihir dibuka oleh insiden paling mengerikan sepanjang masa yaitu perang sihir. Itu adalah fenomena yang akan berbekas bagi sebagian umat manusia yang masih hidup di era sekarang.
Sekarang, sihir sudah menjadi hal umum, siapa pun bisa menggunakan sihir, raja, bangsawan, hingga rakyat biasa. Tidak ada pengecualian bagi mereka yang ingin mengembangkan dan menghidupkan bakat sihirnya.
Jaman yang menjadi mimpi buruk itu kian pupus oleh waktu, meski begitu buku sejarah tentangnya masih tersimpan kuat di dokumen sejarah. Buku itu sudah dipelajari semenjak akademi memulai ajaran tahun pertama.
Mereka dibekali oleh ilmu sejarah, ilmu teori sihir, hingga pengetahuan umum dan nalar. Penyihir tidak hanya sebatas mempelajari sihir saja, di akademi para penyihir dituntut untuk bisa menguasai sepenuhnya materi tersebut. Sekurang-kurangnya tidak ada yang dapat nilai merah di rapor ujiannya.
Semua sudah dilalui setelah semester pertama berakhir. 6 Bulan setelahnya, di aula Akademi Sihir Legion, dari Kerajaan Legion—kerajaan yang sangat besar dan diagungi oleh ribuan kerajaan sihir dan akademi di muka bumi ini menemukan sebuah fenomena menggemparkan.
Hari eksekusi sihir bab pertama telah dimulai. Hari ini adalah hari di mana para pelajar sihir diperiksa sihirnya. Tak banyak dari mereka diketahui mendapatkan sihir kelas atas—sihir elemen atau pun non-elemen.
Di samping itu, di urutan terakhir, suasana mulai berubah. Hari yang seharusnya menjadi hari membahagiakan bagi para pelajar sihir yang menemukan jalan sihirnya kini berubah.
Mereka yang telah diperiksa duduk di atas. Mereka juga mulai memasang tatapan rendahan pada orang di bawah.
(Menjijikkan sekali)
(Apa-apaan itu)
(Itu benar-benar tidak disangka)
Itu adalah sebagian ujaran mereka yang merendahkan pria malang itu. Pria berambut putih yang menjadi pusat perundungan di tengah aula, di depan para guru pembimbing itu adalah Felix.
Felix diketahui tidak memiliki sihir setelah tangannya menyentuh Sphere Orb—sebuah bola yang digunakan para guru sihir untuk memeriksa jenis dan kategori sihir.
Felix tidak berada di 6 elemen sihir dan jenis sihir non-elemen. Hasil yang dikeluarkan sangat ironis.
Para guru pembimbing hanya menatap tak senang, dan malu melihat pelajar akademi mendapatkan kondisi menyedihkan seperti ini.
Meski menghadapi banyak lontaran kasar padanya, raut wajah Felix tetap biasa dan tidak peduli. Pandangannya terus mengarah pada para guru pembimbing khususnya guru yang memasang wajah tegas padanya.
Orang itu adalah Garfield Veldhest, seorang pria yang lahir di keluarga Bangsawan ternama. Dia adalah pria yang memegang teguh prinsipnya sebagai guru di akademi.
Melihat seorang pelajar yang tidak memiliki atribut sihir membuatnya tak bisa tinggal diam. Dia sangat serius menghadapi Felix hingga menciptakan hawa tegang di aula.
Saat ada salah satu mulai bergosip lagi di atas, Garfileld langsung membenturkan tongkatnya di lantai. Suaranya nyaring membuat telinga mereka berdenging.
Itu adalah peringatan halus darinya.
Dia mengangkat pandangannya pada Felix setelah memperingati mereka yang di atas.
Meski tatapannya sangat tegas dan tajam, dia sebenarnya tidak menyangka saat melihat pelajar terpintar di akademi ini tidak memiliki sihir. Sebelum-sebelumnya hubungan mereka sangat erat bagai paman dan ponakan. Bahkan, Garfield sempat menaruh harapan penyihir terkuat padanya. Dia sangat menilai Felix sangat baik, seorang pelajar yang tidak membangkang pada aturan, peduli, dan cerdas.
Sayangnya, dia tidak bisa membela Felix hari ini.
“Apa kau tahu maksudnya ini, Felix!?” tanya Garfield.
Felix terus tenang. Dia tahu bahwa hari ini akan datang.
Akademi bukanlah institut pendidikan biasa. Sebagai manusia tanpa sihir yang hampir jarang terjadi di muka bumi ini, tentu itu akan menyusahkan kehidupannya.
Garfield menarik napas. Lidahnya yang digigit dilepas.
“Kau tahu seberapa mengerikannya kondisimu jika tetap berada di akademi ini. Aku tidak ingin hal buruk menimpamu, Felix.”
Garfield berencana akan menyatakan bahwa Felix akan ditendang dari institut sihir ini. Dia tidak bisa mempertahankannya di akademi dengan kondisi cacat sihir. Oleh karena itu, Garfield berpikir bahwa ini adalah keputusan yang pas.
Namun, Felix justru menyanggah lontaran yang akan dikeluarkan oleh Garfield.
“Tenang saja, saya bisa bertahan.”
Garfield terkejut. Dia menghantam permukaan pagar di hadapannya. “Kau bodoh, ya. Tidak ada yang akan memihakmu setelah ini, kau sekarang hanyalah seekor kelinci yang tersesat di kandang serigala!”
Pernyataan Felix menurutnya sangatlah bodoh dan terkesan membunuh dirinya sendiri.