Bel bergema di atas menara. Semua pelajar mulai bubar pergi ke kelas masing-masing. Saat pandanganku terus terpaku pada jalan kosong sesuatu menyentuh pipi. Aku tersentak.
“Apa kau mendengarkanku, Felix...?”
Gadis cantik berambut pirang, kulit bening layaknya sutra, dan mata indah berwarna hijau zambrud. Roselin Eva namanya. Dia adalah temanku di sini. Helaan napas panjang keluar. Dia seperti telah banyak berbicara padaku.
“Ah, maaf Eva. aku sedikit melamun tadi.”
Kelopak matanya mengerut. “Kau tahu Felix. Setelah menerima begitu banyak cibiran, aku terus cemas.” Eva mencondongkan badannya, wajah tegasnya jelas di hadapanku. “Ditambah lagi kau malah mencoba menantang seluruh angkatan kelas 1 dengan kondisimu seperti ini!”
“Maaf... maaf, tapi mau bagaimana lagi. Jika aku tidak melakukan itu aku mungkin tidak bisa meyakinkan petinggi di atas sana.”
Kami sudah lama kenal dan selalu bersama di akademi ini, jadi tak heran jika dia bertindak cemas.
Tangannya menarik seragamku. Wajahnya yang tampak murung.
“Hei Felix. Apa ada yang mengganjal di pikiranmu. Keputusanmu di aula tadi yang kau nyatakan seperti terpaksa. Aku merasa bahwa kau akan mengalami hal buruk jika tetap di sini.”
Dengan statusku sekarang, aku memang sangat rentan untuk diserang oleh para perundung di akademi.
Eva memang gadis yang baik. Membuatnya memikirkanku kali ini merupakan kesalahanku.
“Felix... Felix, apa kau dengar!” Panggilnya lagi.
“Aa, maaf, ya, aku tidak memaksakan diriku, kok.”
Eva mengerutkan mata ke arahku. Kupikir dia tak percaya dengan pernyataanku.
Aku menghela napas, dengan tenang menjelaskan kembali kondisiku saat ini.
“Aku baik-baik saja. Tak ada yang memaksa dan membuatku terpaksa melakukan ini. Aku hanya ingin terus menempuh pendidikan dan menjadi penyihir.”
Kuharap dia percaya dengan pernyataanku.
Di dunia ini, sihir sangatlah umum dimiliki oleh manusia. Aku yang berstatus manusia tanpa sihir tak berhak untuk hidup dengan tenang sekarang. Meskipun begitu, ini adalah pilihanku.
“Penyihir, ya...” ucapnya panjang.
Eva melangkah ke hadapanku. Dia membungkukkan wajahnya sambil berjalan ke belakang. Dia memajang senyum manis sambil menyipitkan wajahnya ke arahku. Aku terus berjalan mengikuti irama langkahnya.
“Ada apa, Eva?”
“Tidak, aku hanya tidak menyangka bahwa temanku ini memiliki impian yang sama denganku.”
Aku terkejut. Impian Eva membuat rasa penasaranku tumbuh.
Aku mengangkat bahu. “Impian? Kau punya impian?” tanyaku antusias.
Eva seketika mengecutkan wajahnya. “Apaan itu, setiap orang pasti punya impian tahu!”
“Tapi jika kau ingin tahu impianku, akan kuberitahu sekarang juga.”
Saat ini angin berhembus, menyapu rambut pirangnya yang indah.
Entah mengapa sorot matanya mengunci pandanganku.
Dia menapakkan tangannya di dada, memajang senyum cerah bagai mawar yang mekar.
“Impianku adalah menjadi penyihir terhebat di dunia ini!” serunya.
Aku tercengang. Meski tujuanku bukanlah menjadi penyihir terkuat, tapi mendengar pernyataannya membuatku senang.
Ya, Eva belum berubah sama sekali.
Jalanan perlahan mulai sepi. Hanya ada aku dan Eva sekarang. Aku menoleh ke arahnya, memandang Eva yang masih antusias berjalan di dekatnya.