Pagi itu adalah pagi yang buruk. Aku berdiri sendiri di sana, melihat dirinya dicemooh banyak pelajar di tengah aula.
Ini adalah hari yang menyebalkan. Bahkan, ini pertama kalinya aku mengecap para pelajar jahat. Mereka tak memiliki rasa simpati sedikit pun dan selalu mendiskriminasi Felix tanpa henti.
Felix, dia merupakan pelajar berprestasi yang mampu mencetak nilai sempurna di setiap pembelajaran akademik. Namun, Semenjak hari sial hadir, Felix dinyatakan sebagai pelajar non sihir karena. tidak memiliki intensitas cahaya pada Sphere Orb
Para petinggi sempat memaksanya untuk keluar dari akademi ini. Tentu, mendengarnya sedikit mengusik jantungku. Beruntungnya, ada bantahan dari seorang petinggi, memberikan kesempatan Felix untuk memilih.
Itu adalah pilihan Felix. Aku bahkan tidak punya hak untuk menentukan. Namun, entah mengapa perasaanku terasa gelisah seolah tak bisa membayangkan hidup di akademi ini tanpa dirinya.
Aku tidak memiliki hubungan spesial dengannya. Felix adalah orang pertama yang kukenal di akademi. Aku selalu bersamanya. Mengamati senyuman yang selalu terpajang di wajahnya. Tawanya yang melekat di telingaku. Bahkan, keusilannya yang selalu menghiburku.
Namun kini, ekspresi yang kulihat hanyalah sebuah tipuan. Aku merasakan kecemasan yang menyelimutinya. Bahkan, dia secara perlahan membangun tembok dariku.
Aku tahu kejadian itu tak bisa semua orang bisa menahannya. Akan tetapi, aku tak bisa membiarkannya terus sendiri. Aku tak mau dia merasakan hal serupa denganku. Waktu itu, aku berhasil membujuknya pergi ke kelas bersamaku. Namun, ekspektasiku sungguh berlawanan.
Semua sorot mata dan cacian menghujani Felix. Perasaanku sangat gelisah seolah niat awalku semakin memudar. Amarah perlahan tumbuh di benakku. Aku sangat ingin memarahi mereka di sana. Namun, saat amarahku diluapkan, Felix justru menghentikanku. Itu sungguh menjengkelkanku. Entah apa yang dia pikirkan tapi tindakannya sungguh arogan sekali.
Saat duduk sambil menemani Felix. Seorang gadis sekelas menghampiriku. Secara terang benderang mengajakku pergi.
“Hei, Eva? Mau ikut bersama kami mengobrol?”
“Tinggalkan saja dia.”
“Buat apa menemani pecundang seperti itu.”
“Eva, berhentilah bersikap sok peduli. Dia hanyalah teman sekelasmu saja.”
Ini adalah penafsiranku saja. Entah mengapa saat mendengar ajakan mereka seperti mencoba menjauhkan diriku dari Felix. Aku menolaknya bahkan menegur mereka untuk tidak mencibir Felix lagi.
Namun, seusai kejadian waktu dua minggu kemarin, aku sudah tak melihatnya lagi. Jam masuk. Dia bahkan tidak masuk ke kelas.
Aku selalu duduk, menunggunya datang ke kelas. Tak ada perkembangan sama sekali. Aku pun merenung, mengingat ucapan yang sungguh tak pantas kulontarkan pada Felix. Waktu itu sepertinya aku telah melukai hatinya. Sial, aku benar-benar menyedihkan.
Esok hari, sama seperti biasanya. Aku mencari di setiap tempat yang pernah aku kunjungi bersamanya dan berakhir sama seperti biasanya. Aku sudah sangat khawatir. Pikiran negatif pun tumbuh. Aku mulai menduga bahwa dia telah meninggalkan akademi ini.
Aku termenung di meja. Menyesali perbuatanku selama ini. Tak lama, salah satu pelajar memulai membahas insiden itu lagi.
“Hei, apa dia tidak datang hari ini?”
“Haha, payah, dia sekarang bukanlah penyihir, aku yakin dia sedang merengek di kasur yang dipenuhi tisu.”
“Dia sungguh menyedihkan setelah hari sialnya tiba.”
Aku mengenal mereka semua. Gerombolan yang dulunya merupakan kumpulan penggemar Felix. Saat itu, Felix adalah idola setiap orang. Namun, sekarang mereka tidak jauh dari kata pembenci.
Salah satu siswi memanggilku, melambaikan tangannya seolah memintaku untuk duduk di sampingnya. Aku yakin mereka akan mengobrolkan hal serupa dengan mereka.
Aku menggertakan gigi—kesal pada perilaku mereka terhadap Felix. Meskipun dia sekarang sedang tidak ada di sini, tetapi aku yakin situasinya akan jauh lebih kacau bila ada dia.
Aku sudah tidak tahan dengan situasi ini. Telingaku sudah sangat panas mendengar ocehan mereka. Aku menghela napas, segera beranjak pergi dari tempat memuakkan ini.
Namun, tanpa sadar aku menabrak seseorang. Aku terjatuh kembali ke tempat duduk. Menoleh arah depan dan melihat dua orang gadis cantik memperhatikanku.
“Anu, apa kau baik-baik saja?”