***
Angin dingin terus menyapu di tengah malam kosong ini.
Aku terus tidak tenang bila melibatkannya pada masalah ini. Selain itu, melihat perlakuan mereka padaku yang sungguh frontal sungguh berbahaya bila bersamanya.
Suara derik dari arah depan terdengar. Pria itu telah pulang dengan tubuh bersimbah darah sambil membawa sekantong kepala monster babi di punggungnya.
“Oh, kau menungguku ya, Felix. Tenang saja, ayah akan memasakan makan malam paling lezat untukmu.”
“Ghh, kau masih saja pulang dengan penampilan kotor itu. Selain itu, bisakah kau berhenti panggil aku seolah anakmu, kakek!”
“Jahat sekali, padahal aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri.”
Eliot namanya—pria berumur 49 tahun ini adalah kakek angkatku. Saat pertama kali tiba di legion, aku sempat tidak mempunyai tempat tinggal kala itu tapi Eliot tiba-tiba datang menghampiriku, menawariku untuk tinggal bersamanya.
Setiap hari dia bekerja sebagai petualang dungeon untuk mengumpulkan kristal dari monster dan menjualnya di loket guild. Tugasku di sini hanya masak dan bersih-bersih tapi jika ada waktu aku pergi bersamanya berburu.
Karena dia seorang petualang tentu saja dia memiliki kekuatan yang cukup kuat. Meskipun aku tidak terlalu mengetahui sihirnya tapi saat itu aku pernah melihatnya mengobrol dengan gerombolan monster rubah. Jarang sekali makhluk suci berhubungan dengan manusia. Mungkin dia merupakan beast tamer (Penjinak monster).
“Jarang sekali aku melihatmu termenung sendirian, ada apa?”
“Aku baik-baik saja, lebih baik kau membersihkan badanmu dulu.”
“Haha, kau benar. Aku akan pergi mandi dan segera menyiapkan makanannya, aku yakin kau belum makan sekali.”
“Sudah kubilang itu adalah tugasku. Setidaknya kau nikmati mandimu.”
Eliot tersenyum kemudian memasang tingkah aneh. “Aduh, kau baik sekali. Sini ayah cium...”
“Berhentilah!”
Dia kemudian masuk ke dalam setelah lelucuan menjijikkan itu. Aku menghela napas panjang, menikmati sedikit lagi udara malam lalu ikut pergi ke dalam.
Setengah jam berlalu. Aku telah selesai menyiapkan makanan yang akan kami berdua hidangkan. Kakek pun datang sambil meregangkan badanya. Aku yakin dia telah menikmati mandinya.
Sup wortel, daging babi panggang, dan roti gandum sudah aku siapkan rapi di meja makan. Itu adalah makanan sederhana yang sering kami makan, meskipun Kakek menawarkan untuk mencoba lebih banyak makanan di pusat kota, aku tidak terlalu tertarik sehingga menolak tawaran itu.
“Kau memang berbakti sekali Felix.”
“Ya, terima kasih atas pujiannya.”
Kakek memakan itu dengan lahap sekali sehingga mulutnya berlepotan. Melihatnya sangat lahap, membuat hatiku sedikit tergetar. Aku tidak tahu apa perasaan ini, selama aku makan bersamanya untuk pertama kalinya aku bisa kembali tenang dengan mudah.
Seusai makan, aku berdiri, bersiap untuk membereskan sisa piring kotor di meja. Kakek berdehem seolah menyuruhku untuk berhenti.
“Ada apa, Kakek?”
Selembar kertas disodorkan padaku. Berita tentang pelajar non penyihir yang bersekolah di Akademi Sihir Legion telah tersebar di mana-mana. Ditambah lagi, ada ilustrasi yang cukup aneh. Meskipun begitu ilustrasi itu mudah dikenal oleh apalagi olehnya.
“Felix, ada yang mau aku katakan padamu. Kenapa kau melakukan ini?”
Sorot matanya tajam ke arahku. Suasana damai seketika berubah menjadi tegang. Helaan napas keluar dari mulutnya. Dia kembali menatapku dengan sorot mata tajam tak seperti biasanya.
“Aku tidak memaksamu untuk keluar dari sana karena aku yakin potensi darimu. Namun, jika kau terus di sana, kau akan mengalami tindakan tak bermoral dari setiap pelajar di sana.”
“Aku tahu itu. Sayang sekali, aku sudah memutuskan untuk tetap di sana.”
Aku tidak perlu mengoceh panjang lebar pada kehidupan buruk yang akan kuhadapi.
“Felix, kenapa kau melakukan hal ini. Apa karena gadis pirang itu?” tanya kakek.
Kakek tiba-tiba dengan samar menyebut Eva. Itu mengejutkanku.
“Apa maksudmu!?”
“Heh, ternyata benar, ya. Ayah jadi sedih melihatmu telah dewasa dengan cepat. Huhu.”
“Lupakan itu, dari mana kau tahu Eva!?”
Aku tanpa sadar menanyakan menggebrak meja. Ini adalah kali pertama aku bertingkah gegabah.
Eliot menyeringai. Senyumnya seperti orang yang licik. “Oh, namanya Eva ya.”
“Oi jawab!”
“Uwahahaha, kau saking waspadanya sampai bersikap seperti itu pada ayahmu.”
Kakek menghela napasnya kembali setelah tawa kerasnya yang memenuhi ruangan ini terhenti.
“Aku selalu memantaumu dari atas loh. Bahkan saat persidangan kau pun aku sudah melihatnya”
Sial, aku seratus persen yakin ini Kakek seorang beast tamer.
“Kau benar-benar menjijikkan.”