Stain Of Magic

Iwan Mulana
Chapter #5

Bab 4

Bangsawan, ya. Jarang sekali seorang bangsawan memiliki sikap tak bermoral seperti ini.

Tangannya mencengkeram kuat, menarikku ke dekat wajahnya. “Kau tampak santai, ya, Bajingan. Apa kau mencoba meremehkanku!” Geram Edhar.

           Dahinya mengernyit lalu segera melayangkan tangan padaku. Dia pasti jengkel karena diabaikan oleh orang rendahan sepertiku.

           Edhar mendorongku, dia melayangkan serangannya.

           Sigap aku menepis tangannya. Meninju kepalanya hingga mulutnya berdarah.

           Sial, aku memukulnya berlebihan.

Pagi ini emosiku benar-benar tidak stabil. Aku memang tak seharusnya ikut campur, tetapi entah mengapa perasaan aneh ini muncul di benak.

           Semua orang yang di kantin menyorot pada kami. Mulai berdesis tentang Edhar.

           “Hei, Edhar tampak kesakitan, tuh.”

           “Lihat itu, masa sama yang cacat sihir aja sampai kelelahan.”

Terjatuhnya Edhar olehku adalah berita yang besar. Tentu saja itu membuatnya sangat kesal hingga menghantam meja di samping.

Edhar bangkit. Dia berlari sambil membawa satu buah pisau makan dan garpu tajam di tangannya.

Edhar sudah hanyut oleh amarahnya hingga buta akan situasi.

Aku mengelak dengan mudah. Saat hendak menyerang kembali, aku menepis tangannya hingga senjatanya lepas.

           Keributan kini terjadi. Semua orang yang ada di sini mulai heboh. Meski aku unggul, tak ada yang mendukung. Namun, sorakan dukungan di sini jelas tidak ada justru mereka yang menonton hanya mengeruhkan suasana.

Edhar yang terlelap oleh suasana terus membabi buta dengan senjatanya.

           “Dari tadi kau menghindar terus. Apa kau takut, bangsat!?”

Properti kantin di sini satu per satu rusak karena amukannya. Mereka yang ada di sini pun hanya sebagai pajangan—tak bergerak bahkan ikut campur menahan Edhar.

           Aku memukul perutnya mengakibatkannya terjatuh dan muntah. Sayangnya, aku gagal membuatnya pingsan.

           “Boleh juga kau!”

           Dia langsung mengayunkan kaki dari bawah. Tangannya menarik kaki kursi. Menjadikannya senjata untuk memukulku.

           Aku menangkap senjatanya.

           “Otakmu sudah rusak ya!”

           “Peduli setan!”

           Orang yang merepotkan. Aku tidak menyangka bahwa orang ini akan melakukan tindakan kekerasan tanpa pikir panjang.

           Aku mendecak. Tanganku meraih sebilah kayu di tangannya. Merebutnya kemudian menendangnya ke belakang.

           Aku menerjang ke arahnya. Memberikan sedikit perlawanan. Tidak mau kalah, Edhar menyerangku dengan kakinya. 

           Dia terus bangkit meski terus kupukul. Bangsawan ini sepertinya memiliki tubuh kokoh.

           Saat pertarungan berlangsung tangannya melipat ke belakang, menangkapku erat lalu menghempaskanku kuat ke beberapa meja makan.

           Sial, ini cukup menyakitkan. Sebelum selesai menghela napas sesak, dia gesit tiba di sampingku dengan ancang-ancang menendang.

           “Ini belum selesai!”

Lihat selengkapnya