Pria tadi yang semena-mena pada Felix membuatku hampir hilang kendali. Di samping itu, aku sedikit terpaku pada pria dan gadis di sana terlihat. Mereka berdua sepertinya sangat terkenal di kalangan pelajar. Sebaiknya aku meninggalkan tempat ini sebelum situasi semakin rumit.
“Eva!”
Kamia berlari ke arahku. Tangannya memegang erat.
“Apa kau baik-baik saja... pria tadi benar-benar menakutkan.”
“Kakak, kau berlebihan. Kak Eva tidak mungkin kalah begitu saja.”
Aku menghela napas. Mengamati situasi yang semakin riuh karena keributan tadi.
“Omong-omong mau pindah tempat?”
Kamia mendecit seperti gadis yang terpicut sesuatu. Tak hanya dia, Kania pun tampak terkesima. Mereka berdua memandang dua orang itu.
“Anu, apa kalian kenal mereka?”
Kania tersentak seperti tak menyangka akan ditanya olehku.
“... heh! Kau benar-benar tidak kenal mereka!?”
“Ya, bisa dibilang begitu.” Kamia mengangkat telunjuknya. “Mereka adalah kakak kelas kita. Namanya sangat tenar di seluruh kalangan akademi. Kak Alhert Sonia dan gadis di sampingnya itu kalau tidak salah adalah Osfold Elina.”
Begitu, ya, pantas saja mereka sangat terpukau saat melihat mereka berdua. Aku tidak menyangka akan ada orang setenar itu di akademi ini. Apa mungkin karena aku tidak terlalu mengamat informasi.
Bel mulai berdenting. Perlahan membubarkan pelajar yang berkumpul di sini. Aku pun tak bisa terus di sini karena masih ada pelajaran yang harus kuikuti.
“Sayang sekali padahal aku masih ingin melihatnya. Jarang sekali, loh, dia menampakkan wajahnya di kelas 1” keluh Kamia.
Mungkin benar yang dikatakan Kamia. Meskipun sangat tenar aku sama sekali belum pernah melihatnya. Mungkin aku melewatkan hari di mana dia menunjukkan dirinya pertama kali di kelas 1.
Saat terus memperhatikan mereka, pria itu tiba-tiba menoleh ke arahku. Tersenyum sambil menyipitkan matanya.
“Eva...” panggil Kamia.
“...Y-ya.”
“Kami berdua mau ke kelas duluan, ya. Sampai jumpa.”
Mereka berdua pergi. Di samping itu, tatapan pria itu masih kuingat. Aku menggeleng. Sebaiknya aku tidak berurusan dengannya.
Jam terus berjalan hingga malam hari. Di kamar, aku terus berguling—memikirkan maksud dari pria tadi. Suara ketukan pintu terdengar. Pelayanku memanggil untuk segera menyantap makan malam.
***
Pagi hari yang sungguh lemas. Semalaman aku tak bisa berhenti memikirkan pria itu. Sesampainya di kelas, Felix masih belum ada juga meskipun aku sempat bertemunya kemarin di kantin.
Pelajaran hari ini cukup menyenangkan. Setelah hari eksekusi sihir itu, pembelajaran di kelas sudah tidak banyak teori lagi. Akan tetapi, pembelajaran sekarang sudah tak bisa dilaksanakan oleh Felix.
Bel istirahat bergeming. Semua pelajar riang keluar saat jam yang sangat dinantikan tiba. Sebelum berdiri, mereka berdua sigap memanggilku lantang. Kamia dan Kania menghampiriku antusias.
“Haha, kau mau kemana, temanku?” tanya Kamia.
“Sejak kapan kita berteman” gumamku.
benar-benar tidak berubah.
“He... jahat sekali, padahal aku sudah menganggapmu teman sejati.”
Dia sedikit resek. Aku menghela napas. Mereka “Kebetulan sekali aku mau pergi ke kamp pelatihan.”
Kamia hanya berekspresi datar. “Membosankan...”
“Hah! Apa urusanmu!”
“A-anu!” panggil Kania lembut. Tangannya menjulur, membawa sekantung makanan. Matanya terus berusaha menghindar.
“Kalau tidak keberatan, Kak Eva juga mau ikut dengan kami makan siang” ajak Kania dengan wajah merona.
Aku terhenyak. Mendengar ajakan Gadis Lucu seperti ini aku yakin seluruh umat manusia tidak akan bisa menolaknya.
Saat diriku membeku, Kamia menggantungkan lengannya di bahuku. Wajah jahilnya terpampang jelas.
“Aduh, aduh, Eva, menolak ajakan Gadis Paling Lucu sealam semesta ini pasti sulit, ya.”
Ucapannya sedikit menjengkelkan. Aku yang awalnya mau menolak malah bertentangan dengan pikiran.
Dengan perasaan yang berat menolak, aku menerima ajakannya.