Stain Of Magic

Iwan Mulana
Chapter #7

Bab 6

Di ruangan OSIS akademi, aku menyusun setiap data pelajar akademi. Itu adalah kegiatanku sebagai ketua OSIS.

Pelajar-pelajar sekarang memiliki potensi yang cukup besar dari sebelumnya. Namun, dibandingkan pelajar lain, Gadis itu sedikit memikat pandanganku. Mata hijaunya, rambut kuningnya, dan paras cantiknya terus membuatku terus memikirkannya.

Ya, aku tidak pernah sesenang ini saat berkunjung ke wilayah akademi kelas 1.

           “Kau kenapa, Alhert, tumben sekali kau cengar-cengir sendiri.”

Aku menyentuh pipi. Merasakan bibirku yang terangkat.

           “Haha, kau benar. Sepertinya ada yang aneh denganku.”

Osfold Elina namanya—gadis cantik dengan rambut hitam yang terikat ke belakang dan mata kuning yang indah. Dia adalah wakil ketua OSIS sekaligus asisten yang selalu menemani dan membantu setiap pekerjaanku. Selain itu, dia juga adalah teman masa kecilku yang lahir dan hidup bersama di kerajaan ini.

           Sebagai keluarga bangsawan, tentu saja kami harus memiliki etika dan nilai moral dalam kehidupan. Namun, Elina berbeda, saat melihatnya pertama kali, dia justru membantah kedua hal itu. Aku masih mengingat keluhannya waktu dia kecil, “Aku benci saat mereka terus menjeratku layaknya anjing penurut!”

           Seorang bangsawan yang ingin lebih bebas untuk hidup adalah sesuatu yang baru dalam hidupku. Itu adalah pertama kalinya aku akrab dengannya, menjalani hidup layaknya manusia biasa tanpa belenggu bangsawan. Ya, itu sebabnya penampilannya terasa sangat standar, tanpa riasan, dan ornamen lainnya, sama seperti gadis tadi.

           Elina menggeletakkan kepalanya di meja seperti Slime. “Aaa. Alhert, apakah sudah selesai. Aku ingin segera bermain keluar, loh!”

           “Haha, tenanglah, masih ada dua ratus data lagi yang perlu kita selesaikan.”

Tangannya seketika menggebrak meja dengan wajahnya kejut saat mendengar jumlah data yang masih belum terselesaikan. “Dua ratus!”

Aku hanya tersenyum sebagai respons biasanya. Dia memang selalu begini—lebih suka bermain daripada bekerja. Entah bagaimana bisa dia mau ikut denganku saat pencalonan OSIS waktu itu.

           Alis sebelahnya terangkat. Tangannya mengelus dagu sambil mengamatiku. Itu membuatku sedikit gelisah.

           “A-ada apa Elina, apa ada yang bisa kubantu.”

           “Tidak, sepertinya bukan dugaanku saja, senyumanmu tadi dan sekarang terasa sama, lebih tepatnya serasi dalam detik yang berbeda.”

           “Apa itu?”

Elina mengangkat tangannya lalu mendaratkannya sambil menunjukku.

           “Dengan demikian, kau terlihat seperti orang yang sedang kasmaran! Dan biar kutebak, orang yang kau suka pasti, gadis pirang bernama Roselin Eva tadi kan!”

           “Pfft”

Tawaku hampir pecah saat mendengar guyonannya. Aku tidak menyangka dia tiba-tiba mengatakan hal itu.

           Elina mengembungkan pipinya sesaat. Sepertinya dia kesal saat aku menertawakan pernyataannya. Dia kembali menggebrak meja tapi sekarang di mejaku.

           “Sudah kuduga, bisa-bisanya kau jatuh cinta pada adik kelasmu dasar pedofil!”

           “P-pedofil? Siapa?”

           “Kaulah!”

Aku tidak menyangka dia menyebutku sebagai seorang kriminal bernafsu aneh. Elina mendekat ke arah mejaku, menarik kerahku hingga beranjak dari tempat duduk.

“Ayo, katakan padaku!, apa kau menyukainya, dasar kriminal bergelar bangsawan!?”

Tangannya terus mengguncang hebat. Suasana yang biasanya damai di ruangan OSIS seketika riuh.

“Tenang Elina. Aku benar-benar tidak menyukainya sama sekali.”

Elina menghentikan guncangannya. Kericuhan dalam ruangan OSIS kupikir sudah berakhir cepat. Namun, tangannya yang masih tercengkeram kuat di kerah memberi tanda bahwa semuanya belum berakhir.

“Apa yang menarik perhatianmu pada gadis itu, Alhert?”

Lihat selengkapnya