Suara panggilan yang terus menggema telingaku, membangunkanku dari tidur nyenyak.
Aku membuka mata, Kepalaku masih terasa pusing, serta pandanganku pun masih menyesuaikan.
“Wah!”
Aku terperanjat heboh.
Wajah seseorang muncul sangat dekat di hadapanku.
Seorang gadis berpakaian pelayan. Gadis berwajah imut dengan mata besar seperti boneka beruang dan kulit bening seperti sutra.
Dia adalah Anadera Rymis, seorang pelayan pribadiku. Rymis bukanlah pelayan bayaranku, sebagai pelajar akademi diharuskan memilih satu pelayan untuk membantunya menjalani kehidupan pada hari pertama memasuki apartemen akademi.
Kami sudah setengah tahun hidup bersama hal tersebut juga yang membuat hubunganku dengannya cukup erat meski sebatas majikan dan pelayan. Oleh karena itu, selama aku bersamanya, dia semakin menunjukkan sifat aslinya.
Rymis mendekatkan kembali wajahnya. Mata besarnya sungguh jelas di hadapanku. “Nona, apa kau baik-baik saja?”
Pakaiannya yang sengaja dilonggarkan hingga bagian dadanya hampir terlihat jelas. Wajah polosnya tidak sinkron dengan tindakannya.
Dia semakin mendekatkan wajah. Kedua bibir kami bahkan hampir bertemu. Namun, sebelum itu terjadi, aku mendorongnya. “P-pakaianmu, perbaiki segera!”
Dia yang berada dalam genggaman tanganku, menyentuh bibir sebelahnya. Matanya terus menatap polos ke arahku. Wajahnya sangat cantik dengan kombinasi tubuh pendeknya, dia hampir bisa mengungguli Kania dalam sektor lucu.
Rymis menunduk bersalah. “Ah, maaf atas kecerobohan saya, Nona, sepertinya ukuran dada saya membesar lagi” ujarnya sambil membenahi pakaiannya.
“Aku tidak tanya tentang dadamu!”
Suasana masih sungguh dingin. Apa pagi benar-benar sedingin ini, ya. Aku beranjak dari tempat tidur lalu pergi ke ruang tamu.
Senandung lucunya mengikutiku. Rymis mengikuti langkahku.
Aku duduk di sofa empuk, di ruang tamu. Di meja, Rymis sudah menyiapkan teh hangat.
Rymis mulai membenahi penampilan pagiku yang acak kabul. Tangannya menyisir lembut helai rambutku.
“Nona, apa ada masalah, wajahmu sedikit pucat hari ini?”
“Tidak.”
Rymis mendekatkan kembali pandangannya dari belakang. Aku sedikit terkejut saat melihat sorot matanya yang lembut tapi tegas jelas di sampingku.
“Apa Nona ada masalah dengan Genit itu?”
“Genit? Siapa? Omong-omong mau sampai kapan kau menatapku begitu dekat!”
Rymis memundurkan jaraknya. Dia kembali mengerjakan tugasnya sebagai pelayan. “Pria rambut putih yang sungguh menyebalkan itu. Saya sungguh cemas saat melihat Nona begitu gelisah. Saya yakin pria itu pelakunya. Namun, tenang saja, Nona, saya akan menjaga Nona sepenuh hati dari Serigala Liar itu” gerutu geramnya saat menjelaskan.
“Setidaknya sadar diri lebih baik” gumamku.
Aku menghela napas. “Kau benar-benar membencinya, ya.”
Rymis dan Felix memang sudah akrab dari dulu. Semenjak dia mengantarkanku ke apartemen, Rymis melirik dengan sorot tidak senang pada Felix.
Rymis mengangkat kedua alisnya.“Omong-omong kehidupannya sekarang bagaimana, Nona, apa dia sudah tidak ada?”
“Entahlah, aku pikir dia sudah keluar dari akademi tapi kemarin dia kembali muncul.”
Aku tidak tahu mengapa dia datang melindungiku kemarin. Selain itu, pertarungan kemarin benar-benar cukup berbahaya jika Bangsawan Sialan itu mengadu pada keluarganya. Meski begitu, Felix bisa mengimbangi bela dirinya.
Aku meregangkan tubuh ke bantalan sofa empuk. Memikirkan hari kemarin hanya membuatku stres.
“Sayang sekali padahal lebih baik jika dia pergi dari akademi” ujar Rymis.
Sejujurnya aku pun berpikir seperti itu. Namun, jika dia pergi dari pandangan entah mengapa perasaanku tiba-tiba gelisah.
“Akademi ini seperti kandang siksaan bagi manusia tanpa sihir. Meskipun aku membencinya, melihatnya disiksa sungguh tidak tega.”
“Dia masih baik-baik saja. Aku yakin dia bisa menanganinya” ucapku yakin.
Jarang sekali Rymis merasa iba pada Felix. Ya, syukurlah, kuharap rasa bencinya perlahan meluntur.
Dunia sihir benar-benar merepotkan dari yang kuduga. Kupikir mereka para penyihir akan mengayomi seluruh umat manusia tanpa terkecuali.
Waktu terus berjalan begitu pun teh yang semakin menipis. Aku masih ingin tidur karena masih ada satu jam lagi. Seharusnya waktu ini kupakai siap-siap.
Aku tidak menyalahkan pilihanku masuk akademi ini. Namun, entah mengapa motivasiku semakin surut saat terus mengingat penindasan mereka terhadap Felix. Jika mereka memperlakukan Felix sehina itu bagaimana bila menghadapi orang-orang yang membutuhkan bantuan.