Malam hari pun telah tiba. Sayangnya aku tidak diperkenankan untuk pulang karena acara kelompok ini. Lebih tepatnya Kamia memaksaku untuk ikut hadir.
Bar yang ramai dikelilingi oleh banyak pelajar. Mereka saling bercanda satu sama lain dengan anggota di kelompoknya. Ada pun orang-orang yang dari kelasku.
Aku sendiri tidak menyangka akan ikut acara yang menguras energi ini.
Kamia mengangkat gelasnya yang dipenuhi oleh bir segar. Dia pun berseru “Bersulang!”
Kania dan Guru Jimi meresponsnya dengan menggebu-gebu. Kelompok ini sangat energik dibandingkan dengan yang lain meski di hari pertama
“Agh! Segarnya!”
Kamia meminum bir itu dengan lahap. Di samping itu, Kania justru hanya membeli segelas susu hangat—dia justru lebih mirip anak gadis yang lugu. Sedangkan aku hanya membeli segelas teh hangat saja.
“Kalian benar-benar menarik, ya” ujar Jimi di hadapan kami.
Kamia hanya tertawa dengan wajah merahnya yang sepertinya dia sudah mabuk hanya karena satu gelas saja.
“Haha, kau benar. Kami benar-benar gadis yang imut.”
Dia mulai hanyut oleh alkohol.
“Ya, seperti yang kau lihat, Guru Jimi.”
“Omong-omong nama kalian siapa, aku bahkan belum mengetahui nama kalian, loh.”
Kamia dengan sikap barbarnya mulai bergerak. Dia mengangkat tangannya dan menyebutkan namanya lantang.
“Aku Kamia Borth, seorang penyihir kristal, hehe... aku juga suka makan daging babi panggang, kue manis, dan—”
Kau sebaiknya duduk Kamia. Pikirku yang ingin kukatakan padanya. Lebih tepatnya aku tidak ingin dia muntah di sampingku.
Sekarang giliran Kania dengan wajah kakunya yang merah. Gadis lucu itu menapakkan tangan di dadanya.
“A-aku Kania Borth, sihirku sama seperti Kak Kamia, salam kenal.”
Mereka kemudian menyorotkan matanya ke arahku. Aku bingung sejenak kemudian menyadari bagianku.
Aku berdehem dan tersenyum. “Namaku Roselin Eva, seorang penyihir api, salam kenal.”
Guru Jimi hanya tertegun di hadapanku. Aku kembali memanggilnya “Guru Jimi, ada apa?”
Dia tersentak saat kupanggil. Aku hanya melontarkan senyuman saja agar suasana tidak keruh.
“Penyihir api perempuan, ya. Kau pasti memiliki potensi untuk menjadi penyihir terhebat.”
Dia sepertinya mencoba menghiburku. “Aduh, kau berlebihan tahu, Guru Jimi.”
Guru Jimi meregangkan badannya. Membiarkan lengannya memangku.
“Sudah lama sekali aku tidak sesenang ini.”
“Senang kenapa?” tanyaku.
Dia kembali tersentak kemudian tertawa kecil. Aku sendiri masih bingung dengan tingkahnya.
Guru Jimi terlihat penuh wibawa tapi sekarang dia justru seperti membuka sosok aslinya yang sedikit fanatik.
“Maaf, aku memang suka berbicara sendiri.”
“Sudah 8 tahun atau lebih aku kehilangan muridku. Pesta ini sungguh dejavu.”
Kania di samping menatap Guru Jimi serius dengan mata lebar. “Lalu di mana mereka. Guru. Apa mereka sudah naik kelas?” dia bertanya lebih penasaran daripada aku.
Guru Jimi hanya menggeleng. “Jika dia sudah naik kelas. Sudah pasti aku akan ikut dengan mereka. Sayangnya, mereka sudah tidak ada di sini.”
Aku terhenyak. Perasaanku langsung bercampur antara rasa sedih dan penasaran.
Guru Jimi hanya tersenyum datar melihat ekspresi kami berdua.
Kania yang murung sepertinya merasa bersalah karena menanyakan hal sensitif itu.
Dia kemudian meminta maaf penuh rasa salah.
Guru Jimi hanya tertawa seolah tidak mempersalahkan hal itu.
Namun, meskipun begitu, Kania masih memasang wajah bersalah.
---