Stain Of Magic

Klised
Chapter #10

Bab 9

Di bar, bagian lantai satu. Aku duduk bersama kelompokku. Mereka sudah berkumpul satu sama lain.

           Kelompok lain tampak seru sekali dibandingkan dengan kelompokku, mereka yang di sini justru terus menatap rendah padaku.

           “Guru Garfield apa kau yakin merekrutnya?” ucap salah satu dari mereka.

           “Berisik! Aku tidak memerintahmu untuk berbicara!” tegur Garfield.

           Garfield menghela napasnya. Aku pun hanya diam tak membalas apa yang mereka lakukan padaku.

           “Kita mulai sesi perkumpulan ini. Valcon Neghtail, Maria Evisto, Lopa Actoria, dan Felix. Kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik pada ujian seleksi penyihir akademi!”

           Salah satu dari mereka membantah. Lopa, seorang pria dengan nada bicara arogan mengutarakan ketimpangan kelompok ini.

           “Apa Guru Garfield tidak salah. Kita tidak akan bisa menang kalau si Cacat Sihir ini ada!”

           Maria ikut nimbrung. “Itu benar! Ini tidak adil, Guru Garfield!”

           “Berisik!” Garfield berseru kesal. “Yang lebih penting kalian harus lulus sekarang!”

           “Lulus apaan, menggendong si Cacat Sihir ini? Itu mustahil!”

           Mereka terus menyalahkanku. Bahkan salah satu dari mereka ada yang berani melemparkan gelas berisi padaku.

           “Oi, Cacat Sihir, sebaiknya kau keluar!” perintah arogan dari Lopa.

           Garfield sepertinya mulai kelelahan menanggapi mereka bertiga. Aku juga tak bisa banyak tingkah karena perintahnya.

           Esok harinya. Aku datang untuk mengikuti latihan pertama di kelompokku. Mereka yang ada di sini tak ada sedikit pun yang menerimaku.

           Kedatanganku sama sekali tidak disambut hangat melainkan cacian.

           “Kau benar-benar lambat, dasar Bodoh!”

           Lagi-lagi aku diam tak membalas. Garfield akhirnya datang. Tanpa basa basi dia mulai memindahkan kami ke dimensi latihan.

           Sepertinya dia muak melihat ocehan dari anak muridnya.

           Kami langsung disambut oleh kerumunan manekin.

           Meski tanpa arahan, kami tahu bahwa yang perlu dilakukan adalah melawan mereka. Itu adalah latihan kami.

           Sayangnya, latihan pertama kali ini sungguh kacau. Mereka maju tanpa seorang pun yang mau menolehkan pandangannya padaku.

           Mereka meninggalkanku sendiri seolah diriku tidak bisa mengimbangi kecepatannya.

           Gerombolan manekin mulai menyerbu ke arahku.

           Beruntungnya, pedang yang diberikan Kakek sangat berguna—aku bisa bertahan dan melawan karena pedang ini.

           Hingga pada akhirnya aku berhasil menyelesaikannya dengan mudah. Tak seorang pun yang memberiku apresiasi, justru mereka bertiga memberikan tatapan curiga. Sepertinya mereka mengira bahwa Garfield mengatur tingkat kesulitannya untukku.

           “Kalian ini payah, kah!?”

           Garfield mulai meluapkan amarahnya dan mulai menegur mereka bertiga. Wajar saja, mereka tidak pernah meluangkan sedikit pun pandangannya padaku. Akan lebih berbahaya jika kelompok ini bertempur melawan monster nyata di dunia ini. Bisa dibilang kerja sama tim di sini benar-benar buruk.

           “Kalian kira ujian ini akan mudah! Kalian terlalu polos dalam menghadapi ujian ini. Tanpa adanya kerja sama tim kalian hanya akan jadi samsak kelompok lain dan akan gugur di putaran pertama!”

           “Lagi pula kita memang sudah kalah semenjak kehadiran Cacat Sihir itu!”

           Lagi-lagi aku kena di perdebatan mereka.

           Saat aku akan meninggalkan perdebatan mereka Lopa datang menghalangku. Wajahnya penuh kejengkelan saat menatapku.

           “Oi, kau mau pergi ke mana Cecunguk?”

           Dia sedikit membuatku jengkel. Tangannya tiba-tiba mencengkeram kerah pakaianku.

           “Bisa kau lepaskan!” pintaku.

           Lopa tak mengiyakannya mudah. Dia justru memintaku mengulangnya.

           Garfield menyadari situasi yang sedang aku hadapi dengan Lopa. Dia menyentak kemudian segera menghampiri kami. Namun, Lopa lebih dulu mendorongku. Sayangnya, aku membalas—membalikan serangan dari Lopa hingga membuatnya terjatuh.

           Semua orang di sekitarku terheran-heran sama seperti waktu di kantin.

           Lopa menatapku kesal.

           “Brengsek, kau mau ngajak ribut, ya!?”

           Garfield memisahkan kami. Tahu akan ditegur lagi aku lebih memilih untuk pergi meninggalkan mereka.

 

 

***

 

Lihat selengkapnya