Latihan tadi benar-benar kacau sekali. Saat merapalkan sihir ledakan Nova, aku justru tidak sengaja meledakkan seisi dimensi latihan.
Aku terus terpekur sambil memainkan kedua jari.
Kamia merangkulku. “Hei, ada apa, Anak Muda?”
Dia masih energik seperti biasanya. Meski begitu, gara-gara sihirku, mereka hampir kena imbasnya.
Aku menunduk. “Maaf, karena diriku kalian hampir celaka.”
Kamia termangu sesaat kemudian tertawa keras di sampingku.
“Tadi itu lucu sekali tahu. Aku sempat terkagum melihat rentetan lingkaran sihir yang besar di bawah monster itu, tapi aku tidak menyangka kau akan gagal sampai memasang wajah panik, hahaha!”
Wajahku sungguh panas sekarang. Aku yakin mereka melihat wajahku merah bagai tomat.
“Berisik, bodoh!”
Kamia terus tertawa terbahak-bahak. Di sampingnya, Kania tertawa kecil. Begitu pun guru Jimi.
Kejadian yang seharusnya kuingat sebagai bentuk penyesalan sekarang justru terkesan memalukan.
Untung saja, sebelum ledakan itu meluap, Guru Jimi segera mengeluarkan kami dari dimensi latihan.
Dia benar-benar menambah satu gelas lagi.
Aku tersenyum, tidak menyangka bahwa akan mendapatkan teman-teman yang menyenangkan seperti mereka.
“Latihan hari ini cukup bagus, ya. Kerja bagus untuk kalian” puji Guru Jimi.
Aku tersipu. “Tidak, ini juga berkat dirimu, Guru.”
Saat hendak menggerakkan tangan kanan untuk mengambil gelas rasa perih itu muncul, rasa perih muncul. Benar saja, luka bakar di tanganku kembali muncul. Aku sudah tidak heran lagi, ini pasti gara-gara latihan tadi. Aku terlalu banyak menggunakan sihir api hingga sihirnya membakar.
“Tanganmu kenapa, Eva?”
Jimi sepertinya menyadari kondisi tanganku.
Kamia yang menyusup ke sampingku pun mulai bersuara lantang yang melantur.
“Hah! Eva kau membakar tanganmu lagi.”
“Siapa yang kau sebut membakar tanganku sendiri!” geramku.
Beberapa hari sebelumnya, setelah kami bertemu. Aku jadi sering berlatih bersama di kamp pelatihan.
Karena hal itu juga, mereka berdua khususnya Kamia mengetahui kekuranganku.
Jimi memintaku untuk menunjukkan lukaku padanya. Aku tidak punya pilihan selain mengiyakan.
Sorot mata mereka melebar saat melihat luka bakar di tanganku.
“Kak Eva sepertinya sering mengalaminya, ya?” Tanya Kania.
“Ehm, aku akan terbakar lagi jika menggunakan sihir apiku terlalu banyak.”
Jimi mengangkat bahunya dengan sorot pandang yang masih melekat pada lukaku.
“Penyihir yang dilukai oleh sihirnya sendiri, ya. Jarang sekali fenomena ini terjadi.”
“Apa kau sedang ada masalah batin, Eva?” tanya Guru Jimi.
Sejujurnya ini adalah masalah pribadiku. Aku tidak senang jika berbagi rasa dengan mereka. Tentu saja Felix pun termasuk.
“Sayangnya tidak.”
“Padahal kau pandai menggunakan sihirmu tapi ini benar-benar mengejutkan.”
Jimi terus mengerutkan matanya. Kania yang di sampingnya pun hanya bisa berdiam memperhatikan lukaku.
“Ya, masih banyak waktu untuk mencari solusi sebelum ujian tiba. Aku yakin semuanya baik-baik saja. Sebagai guru tentu saja aku akan membantumu.”