Aku tidak tidur lagi gara-gara semua bayangan masalah tak mau pergi dari kepalaku. Campuran antara ketakutan dan penyesalan, meskipun sedikit. Aku nggak mungkin bisa mundur lagi dari hubunganku dengan Revaldi. Jujur karena aku merasa beruntung, tapi sekaligus juga merasa mendapat cobaan. Mungkin ini risiko bisa mengenal orang tenar. Bayangkan saja, kapan lagi ada orang tenar, tiba-tiba bersedia bertekuk lutut denganmu. Sementara orang lain harus berdesak-desakan dan cuma bisa bermimpi bisa berdekatan dengan dia, sementara aku dianya yang nempel denganku.
Tapi kalau keadaan terus begini, aku akan lulus kuliah dengan dua gelar, sarjana dan Panda. Lingkaran hitam di bawah mataku semakin jelas, tapi malam itu bukan karena tugas atau karena begadang mau ujian, tapi karena satu kalimat.
"Mereka ketemu orangnya." Aku penasaran, siapa sebenarnya yang sudah nekat menguntitku sejak tiga bulan lalu.
Aku menatap ponsel selama berjam-jam, menunggu, sampai akhirnya sekitara pukul dua dini hari ponselku berbunyi. Nama Revaldi muncul, aku langsung mengangkat.
"Re?!"
Di ujung sana terdengar napas berat, seolah ia baru selesai berlari.
"Maaf." Katanya.
"Aku baru bisa telepon."
"Siapa orangnya?" Aku langsung bertanya karena tidak sabar sudah menunggu sedari tadi jadi tak peduli lagi berbasa-basi. Selama beberapa detik Revaldi tidak menjawab. Itu membuat perutku terasa tidak nyaman.
"Re?"
"Aku nggak tahu harus mulai dari mana." Dadaku semakin sesak.
"Mulai dari awal."
Ternyata semuanya bermula dari nomor anonim yang mengirim ancaman, tim keamanan yang bekerja untuk agensinya berhasil melacak beberapa aktivitas digital, memang tidak sempurna hasilnya tapis etidaknya cukup untuk menemukan seseorang. Dia laki-laki, usia dua puluh tiga tahun, mahasiswa dan tinggal di kota yang sama denganku.
Aku menelan ludah.
"Kemudian?"
"Kemudian mereka mendatangi tempat kosnya."
Lama aku menunggu lanjutannya, aku bisa mendengar suara hujan di luar jendelaku, dan entah kenapa suara hujan itu membuat cerita ini terasa semakin menyeramkan.
"Apa yang mereka temukan?" Tanyaku pelan.
Revaldi menghela napas, lama sekali tak ada jawaban, mungkin dia sedang berpikir apakah info ini bakal mengejutkanku, lalu menjawab.
"Foto."
Aku membeku.
"Foto?"
"Banyak."
"Seberapa banyak?"
Lagi-lagi Revaldi tak langsung menjawab, dan aku langsung tahu, aku bakal tidak akan menyukai jawabannya.
"Sangat banyak."
Aku mendengar suara kursi bergeser dari ujung sana, mungkin Revaldi sedang duduk, dan sedang berusaha mencerna semuanya.
"Foto kampusmu."
"Foto rumahmu."
"Foto motor kamu."
"Foto saat kamu ke perpustakaan."
"Foto saat kamu membeli es teh."
"Foto saat kamu menunggu hujan reda."
Tanganku tiba-tiba berkeringat dan mulai dingin, karena semua itu bukan foto yang bisa didapatkan dari internet.
Artinya seseorang memang benar-benar berada di dekatku selama ini.
"Ve."
Suara Revaldi terdengar hati-hati.
"Hm?"
"Mungkin kamu harus duduk."
"Aku sudah duduk."