Aku terdiam tak berkutik. Hujan masih turun, orang-orang masih berlalu-lalang, mobil masih melintas dan dunia masih bergerak seperti biasa.
Tapi bagiku, semuanya terasa berhenti karena di seberang jalan berdiri seorang laki-laki, ia diam membisu, tidak bergerak hanya menatap ke arahku.
Aku tidak pernah melihat wajahnya secara langsung sebelumnya, namun aku tahu itu dia. Entah bagaimana pokoknya aku hanya tahu dengan yakin seperti insting, alarm dalam tubuh yang tiba-tiba berbunyi keras jika ada bahaya.
Tanganku langsung meraih ponsel, tanpa berpikir dan tanpa ragu, tanpa mempertimbangkan apa pun. Aku menekan satu nama Richard Revaldi, dan baru setelah panggilan tersambung, aku menyadari sesuatu.
Kenapa dia?
Kenapa bukan Ayah? Ibu? Naya? Kenapa justru dia yang aku pilih ketika aku merasa terancam bahaya. Tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan jawabannya, karena telepon langsung diangkat.
"Ve?"
Suaranya terdengar santai, mungkin sedang di mobil atau sedang syuting, sampai ia mendengar suaraku.
"Re."
Hanya satu kata, namun nadaku pasti terdengar berbeda karena dalam sekejap suaranya juga ikut berubah.
"Ada apa?"
Aku menelan ludah, lalu berbisik.
"Dia di sini."
Sunyi.
"Apa?"
"Jay."
Keheningan menyeruak selama beberapad etik, kemudian suara kursi bergeser keras dari ujung sana.
"Ve."
Suaranya rendah sekarang.
"Jangan tutup telepon."
Aku menatap ke seberang jalan, Jay masih berdiri di sana, tidak bergerak, tidak mendekat dan juga tidak pergi tapi hanya menatapku tajam. Tapi melihatnya begitu, entah kenapa itu jauh lebih menakutkan.
"Di mana pengawalmu?" Tanya Revaldi cepat.
"Ada."
"Tunjukkan mereka."
Aku mengangkat kepala, dua pengawal berdiri tidak jauh dari halte. Mereka sedang memperhatikan keadaan sekitar, belum menyadari apa yang kulihat.
"Masih ada." Jawabku.
"Bagus."
Aku bisa mendengar suara pintu mobil dibanting dari ujung sana.
"Re?"
"Aku ke sana."
"Apa?"
"Aku ke sana."
"Jangan."
"Kenapa?"
"Jangan nekat."
"Ve."