Aku tidak bisa tidur, rasanya sejak mengenal Richard Revaldi, tidur telah resmi meninggalkan hidupku.
Pukul satu dini hari, aku masih menatap langit-langit kamar hingga berjam-jam kemudian, aku akhirnya menyerah dan mengambil ponsel, lalu membuka chat seseorang, Richard Revaldi.
Aku menatap kolom pesan kosong cukup lama, sampai akhirnya mengetik.
"Siapa Aira?"
Pesan itu langsung terkirim, dan notifikasi tanda pesan sudah dibaca juga terlihat, tapi tak kunjung ada balasan, hingga lebih dari lima belas menit, tetap tidak ada jawaban.
Aku mendengus kesal. Bagus, jadi sekarang dia memilih menghilang.
***
Keesokan harinya, aku sedang berada di perpustakaan ketika seseorang duduk di depanku. Aku tidak perlu mengangkat kepala untuk tahu siapa, karena hanya satu orang yang berani menggangguku saat sedang membaca, Richard Revaldi.
Aku tetap menatap buku, tidak mempedulikannya.
"Masih marah?" Tanyanya.
Aku membalik halaman, masih tetap membisu.
"Ve."
Diam.
"Ve."
Aku menutup buku perlahan, lalu menatapnya.
"Siapa Aira?"
Langsung, tanpa basa-basi, tanpa pemanasan, dan pertanyaan yang menghujam tanpa ampun.
Revaldi menghela napas panjang, seperti seseorang yang sedang bersiap membuka kotak yang selama ini terkunci rapat.
"Aira..."
Ia berhenti, lalu tersenyum tapi bukan senyum bahagia atau lucu, senyum seseorang yang sedang mengenang sesuatu.
"Sahabatku."
Aku mengernyit.
"Sahabat?"
"Iya."
"Cuma sahabat?"
Ia langsung melotot.
"Aku tahu isi kepalamu."
"Aku cuma bertanya."
"Bohong."
Aku memutar mata, sialnya dia benar, seolah bisa membaca pikiranku sekarang ini, setelah sekian lama bersamanya. Lain halnya jika pertanyaan itu aku ajukan dulu.
"Aira itu tetanggaku waktu kecil." Katanya pelan.
"Kami tumbuh bareng."
"Main bareng."