Malam itu aku membawa pulang salinan surat Aira, bukan yang asli. Lia tidak mungkin mengizinkannya.
Sejujurnya aku juga tidak ingin mengambil sesuatu yang begitu berharga dari hidup seseorang, namun bahkan salinannya saja sudah cukup membuatku tidak bisa tidur.
Pukul dua dini hari, lampu kamar masih menyala, aku duduk bersandar di kepala ranjang memandangi lembaran kertas itu berulang kali, seolah jika kubaca cukup lama, aku akan menemukan jawaban yang selama ini kucari. Tapi yang kutemukan justru pertanyaan baru yang lebih banyak dan lebih rumit serta lebih menyakitkan.
Aku tidak pernah mengenal Aira, namun anehnya, aku mulai merindukannya. Merindukan seseorang yang bahkan belum pernah kutemui, seseorang yang pernah membaca tulisanku. Pernah menungguku menulis cerita berikutnya, dan pernah mengirim surat yang tidak pernah sampai, tapi kemudian pergi sebelum sempat bertemu.
Ponselku bergetar, satu pesan masuk dari Revaldi.
"Belum tidur?"
Aku menatap layar, lalu membalas.
"Kamu juga."
Balasannya datang cepat.
"Aku tahu kamu lagi mikirin Aira."
Aku menghela napas, terkadang aku tidak suka betapa mudahnya dia menebakku.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Ketikku.
"Boleh."
"Aira seperti apa?"
Sangat lama aku menunggu jawabannya, sampai aku berpikir mungkin dia tidak akan menjawab, namun akhirnya balasan itu muncul, dan hanya terdiri dari satu kalimat.
"Aira adalah orang yang selalu membuat orang lain merasa tidak sendirian."
Aku membaca kalimat itu berkali-kali, lalu mengetik lagi.
"Sesederhana itu?"
Balasan datang.
"Tidak."
"Aku cuma tidak tahu harus mulai dari mana."
Beberapa menit kemudian ponselku berdering, video call dari Richard Revaldi. Aku menerimanya, wajahnya muncul di layar dengan rambut sedikit berantakan, kaos hitam sederhana, tanpa pencahayaan sempurna dan tak ada kamera profesional. Tanpa semua hal yang biasa dilihat orang di televisi.
Hanya Richard.
"Aku mau cerita." Katanya pelan.
Aku mengangguk, dan malam itu ia benar-benar bercerita tentang Aira.
"Waktu kecil aku takut petir."Katanya.
Aku langsung tertawa.
"Kamu?"
"Iya."
"Artis besar Richard Revaldi takut petir?"
"Jangan merusak suasana."
Aku menahan senyum.
"Oke."
"Aku takut banget." Katanya lagi.
"Kalau hujan deras, aku biasanya sembunyi."
"Lalu?"
"Aira bakal datang bawa buku."
Aku mengernyit.
"Buku?"
"Iya."
"Kenapa buku?"