Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #17

Halaman Terakhir #17 Kozmic Blues

Aku tidak suka pesan itu, sama sekali tidak suka.

"Kalian membaca cerita yang salah."

"Mulailah dari halaman terakhir."

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku sepanjang malam, sampai akhirnya pukul tujuh pagi, aku, Revaldi, dan Lia sudah kembali duduk di ruang tamu rumah Lia, dengan buku harian Aira berada di tengah meja seperti sebuah teka-teki yang selama ini menunggu untuk dipecahkan.

"Tidak mungkin." Kata Lia sambil membolak-balik halaman.

"Aku sudah membaca buku ini puluhan kali."

"Periksa lagi." Jawab Revaldi.

"Kita tidak punya pilihan."

Aku memperhatikan buku itu, sampulnya sudah usang, sudut-sudutnya mulai rapuh, namun masih terawat, karena selama ini Lia menjaganya seperti harta karun.

Mungkin memang itu yang sebenarnya, harta karun terakhir yang ditinggalkan seseorang.

Satu jam berlalu, tidak ada apa-apa, hingga beebrapa jam kemudian masih tetap sama, aku mulai berpikir bahwa pengirim pesan itu hanya sedang mempermainkan kami.

Sampai akhirnya.

"Sebentar." Bisik Lia.

Tangannya berhenti di bagian paling belakang buku.

"Ada apa?" Tanyaku.

Lia tidak menjawab, ia hanya menatap dua lembar halaman terakhir, kemudian perlahan mengusap bagian pinggirnya. Sekali, dua kali hingga di usapan ketiga, wajahnya berubah.

"Ya Tuhan..." Bisiknya.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

"Apa?"

Lia menelan ludah, kemudian menunjukkan bagian bawah halaman ada sesuatu yang hampir tidak terlihat, bekas lem tipis sekali hampir menyatu dengan kertas.

"Halaman ini..." Katanya pelan.

"...menempel."

Ruangan langsung sunyi.

"Tunggu." Kata Revaldi.

"Maksudmu?"

Lia perlahan mencoba memisahkannya denga sangat hati-hati karena kertas itu sudah tua jadi sedikit saja salah bisa robek.

Tidak ada yang berbicara, kami semua hanya menunggu sambil menahan napas, menatap tangannya. Ketika dua lembar itu akhirnya terpisah, aku merasakan bulu kudukku berdiri karena memang ada halaman lain yang selama ini tersembunyi dan halaman itu tidak pernah dibaca siapa pun.

Tulisan di sana berbeda, tidak serapi biasanya dan terlihat sedikit berantakan seolah ditulis dalam keadaan terburu-buru atau mungkin sambil menangis.

Lia mulai membaca, suaranya bergetar.

Kalau kalian membaca halaman ini...

Berarti aku sudah tidak ada.

Dadaku langsung mencelos.

Dan kalau benar begitu...

Maka aku minta maaf.

Karena ada sesuatu yang selama ini kusimpan sendiri.

Bahkan dari Richard.

Lihat selengkapnya