Tidak ada yang berbicara, hingga beberapa menit waktu seperti terjeda, bahkan mungkin lebih lama. Aku tidak tahu, karena kalimat terakhir di halaman itu masih menggantung di udara.
"Kalau Richard tahu..."
"Maka dia juga akan tahu siapa yang menyebabkan kecelakaan itu."
Sekarang Richard Revaldi sedang menatap halaman tersebut seperti seseorang yang baru saja melihat hantu dari masa lalunya.
"Re." Panggilku pelan.
Ia tidak menjawab.
"Richard." Kali ini suaraku lebih tegas.
Perlahan ia mengangkat kepala, matanya merah bukan karena menangis melainkan karena sedang berusaha keras untuk tidak menangis.
"Aku tahu kecelakaan itu." Katanya lagi.
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Lia langsung membeku.
"Apa?" Bisiknya.
"Aku tahu." Ulang Revaldi.
Lia terlihat ketakutan, benar-benar ketakutan.
"Richard..." Katanya.
"Kamu jangan bilang kalau..."
"Aku ada di sana." Potong Revaldi.
Ruangan langsung sunyi, aku merasakan jantungku berhenti selama beberapa detik.
"Kamu..."
Suaraku tercekat.
"...ada di sana?"
Ia mengangguk, pelan. Saat itulah aku menyadari, mungkin selama ini Revaldi bukan sekadar menyembunyikan rahasia ia juga sedang menyembunyikan luka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanyaku.
Revaldi memejamkan mata lama, seolah harus kembali ke tempat yang selama bertahun-tahun berusaha ia tinggalkan.
"Lima tahun lalu." Katanya.
"Aku, Aira, Jay, dan Lia pergi ke luar kota."
Lia menunduk, aku bisa melihat jemarinya mulai gemetar.
"Itu perjalanan biasa." Lanjut Revaldi.
"Tidak ada yang istimewa."
"Liburan kecil."
"Perjalanan sehari."
Ia tersenyum pahit.
"Tidak ada yang menyangka hidup kami akan berubah setelah hari itu."
Aku tidak berani menyela hanya mendengarkan.
"Aira sedang sangat bahagia." Katanya.
"Dia baru selesai menjalani perawatan."
"Dokternya bilang kondisinya membaik."