Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #19

Surat yang Menunggu Bertahun-Tahun #19 Kozmic Blues

Tidak ada seorang pun yang menyentuh amplop itu. Semuanya terdiam sibuk dengan pikirannya masing-masing. Terkadang jawaban yang paling kita cari juga merupakan jawaban yang paling kita takuti karena mereka tidak tahu apa sebenarnya yang telah terjadi dan terkubur sekian lama.

Di atas meja ruang tamu Lia, amplop cokelat itu tergeletak, meskipun terlihat rapuh karena lembarannya sudah termakan waktu, tapi entah kenapa terlihat jauh lebih berat daripada seharusnya. Padahal isinya mungkin hanya beberapa lembar kertas.

"Ve."

Suara Revaldi terdengar pelan.

Aku mengangkat kepala.

"Kamu tidak harus membukanya sekarang." Katanya.

Aku tahu ia bermaksud baik, namun masalahnya, aku tidak mungkin mundur sekarang. Apalagi setelah semua yang terjadi dan namaku muncul berkali-kali di buku harian seseorang yang tidak pernah kukenal.

Aku menarik napas panjang lalu meraih amplop itu. Tanganku sangat gemetar.

"Aku buka." Kataku.

Lebih kepada diriku sendiri daripada kepada mereka.

Lia mengangguk pelan, sedangkan Revaldi hanya menatapku dalam diam.

Perlahan aku membuka segel amplop yang sudah mulai rapuh dimakan waktu, suara sobekan kecil terdengar. Entah kenapa suara itu terasa seperti sesuatu yang sedang membuka pintu masa lalu.

Di dalamnya terdapat tiga benda, bukan satu.

Sebuah surat, sebuah foto dan secarik kertas kecil yang sudah menguning.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

"Apa itu?" Tanya Lia.

"Aku tidak tahu." Jawabku jujur.

Aku mengambil surat terlebih dahulu, kertasnya sudah tua, namun tulisan tangan Aira masih terlihat jelas, rapi, dan memandangnya aku merasa hangat.

Aku mulai membaca.

Untuk Velaren,

Kalau kamu sedang membaca surat ini, kemungkinan besar ada banyak hal yang sudah terjadi.

Dan kemungkinan besar aku sudah tidak ada.

Maaf.

Aku selalu membenci membuka surat dengan kalimat sedih.

Tapi kurasa kali ini aku tidak punya pilihan.

Dadaku langsung terasa sesak.

Aku tidak mengenalmu.

Setidaknya tidak secara langsung.

Tapi aku mengenal tulisanmu.

Dan kadang-kadang aku merasa mengenal hatimu.

Karena hanya orang yang pernah merasa kesepian yang bisa menulis cerita seperti itu.

Aku menunduk, tidak mampu melanjutkan selama beberapa detik karena kalimat itu terlalu tepat menjelaskan semua keadaanku.

Saat SMA, aku memang sering merasa sendirian, namun tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun. Aku hanya menuliskannya dalam cerita. Entah bagaimana, Aira bisa melihatnya.

Lihat selengkapnya