Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #21

Nama yang Kembali dari Masa Lalu #21 Kozmic Blues

Raka Pradana. Nama itu sekarang terpampang di atas kertas yang kupegang, hanya dua kata, tapi efek dramatisnya seperti petir yang menyambar tepat di tengah ruang tamu rumahku.

Ayah terduduk di sofa, mukanya sangat pucat. Aku belum pernah melihatnya seperti itu, bahkan ketika bisnisnya pernah mengalami masalah bertahun-tahun lalu, atau saat Kakek meninggal, juga tak pernah seperti itu. Aku bisa merasakan seberapa parah masalah itu mengusik pikirannya sekarang.

"Ayah." Panggilku pelan.

Tidak ada jawaban.

"Ayah." Kali ini aku sedikit berteriak lebih keras.

Perlahan ia mengangkat kepala, aku melihat ketakutan di mata ayahku. Ketakutan yang sudah lama sekali tersimpan di sana, mungkin bertahun-tahun lamanya.

"Ayah kenal dia." Kataku, bukan bertanya melainkan memastikan.

Ayah mengangguk sekali, dan ruangan itu langsung sunyi.

"Siapa dia?" Tanyaku.

Lama sekali sebelum menjawab, kemudian Ayah menghela napas seperti melepas beban yang berat, seolah sedang memindahkan beban yang telah dipikul terlalu lama.

"Raka adalah anak Mahesa." Katanya.

Aku memejamkan mata, mencoba menyusun semua potongan yang berantakan di kepalaku.

Mahesa, kakak Ayah, dan Raka adalah anaknya.

Entah bagaimana mereka terhubung dengan Aira, Jay, Revaldi, dan sekarang denganku.

"Mahesa meninggal dua belas tahun lalu." Lanjut Ayah.

Aku langsung menoleh.

"Meninggal?"

Ayah mengangguk.

"Karena kecelakaan."

Jantungku kembali berdebar, lagi-lagi kecelakaan seolah kata itu terus mengikuti kami ke mana-mana.

"Raka waktu itu masih remaja." Katanya.

Aku memperhatikan wajah Ayah, aku melihat penyesalan di sana, bukan kesedihan atau penyesalan yang berarti. Ada sesuatu yang tidak pernah selesai dan aku bisa merasakan semuanya karena terlihat di wajah Ayah.

"Apa yang terjadi setelah itu?" Tanyaku.

Ayah tidak langsung menjawab, karena ternyata pertanyaan itu jauh lebih berat daripada yang kukira.

"Ayah dan Raka tidak akur." Jawab Ibu pelan.

Aku menoleh, Ibu jarang ikut campur dalam urusan seperti ini, tapi malam itu ia ikut berbicara.

"Itu tidak sesederhana tidak akur." Bisik Ayah.

Kemudian ia menunduk.

"Dia membenciku."

"Aku pikir itu wajar." Lanjutnya.

"Karena setelah Mahesa meninggal..."

Ia berhenti, sangat lama.

"...aku tidak bisa menyelamatkan keluarganya."

Lihat selengkapnya