Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #22

Suara dari Masa Lalu #22 Kozmic Blues

Aku tidak tidur malam itu, bukan karena takut atau aku mendapat ancaman, juga bukan karena aku sekarang tahu ada seseorang bernama Raka Pradana yang semakin misterius keberadaannya. Tapi semuanya gara-gara satu kalimat Jay.

"Kalian sedang membenci orang yang salah."

Kalimat itu terus berputar di kepalaku, seperti lagu yang tidak bisa dihentikan. Semakin malam meski aku coba tepis, tapi justru semakin berkelindan di pikiranku, rasanya semakin tidak masuk akal.

Kalau bukan Raka, lalu siapa sebenarnya yang harus memberi jawaban untuk semua kemelut yang penuh misteri ini? Kalau memang bukan dia, kenapa semua petunjuk mengarah kepadanya?

Tapi yang paling menggangguku, kenapa Jay terdengar begitu yakin?

Hingga pukul tiga dini hari aku masih duduk di dekat jendela kamar, menatap halaman rumah yang gelap.

Ponselku tiba-tiba bergetar, satu pesan masuk lagi-lagi dari nomor tidak dikenal membuat jantungku langsung berdebar. Tanganku sempat ragu, untuk membukanya, tapi akhirnya kubuka juga. Pesannya hanya satu kalimat.

"Kalau ingin tahu kebenarannya, datang sendiri."

Di bawahnya terdapat alamat, sebuah gudang tua di pinggir kota.

Aku langsung berdiri, aku tahu jika ini ide buruk.

Namun tepat ketika aku hendak mengabaikannya, pesan kedua masuk, kali ini berupa foto.

Saat melihatnya aku langsung terdiam membisu, karena foto itu memperlihatkan sebuah benda yang sangat kukenal. Pita pembatas buku milik Aira, benda yang sebelumnya kulihat di rumah Lia.

Tidak mungkin orang lain memilikinya. Berarti pengirim pesan ini benar-benar terhubung dengan Aira, atau memang Jay?

***

Satu jam kemudian, aku melakukan hal paling bodoh dalam hidupku. Aku datang ke lokasi itu, tentu saja tidak sendirian, karena Revaldi hampir mengamuk ketika mengetahui rencanaku.

"Apa kamu gila?" Katanya.

"Mungkin." Jawabku.

"Ve."

"Aku tahu."

"Kita bisa dijebak."

"Aku juga tahu."

"Terus kenapa tetap datang?"

Aku menatapnya karena aku lelah dengan misteri, dengan begitu banyak pertanyaan tak terjawab yang membuatku lelah dengan rasa takut.

"Aku ingin tahu siapa Aira sebenarnya." Bisikku.

Revaldi tidak membantah, karena ia juga menginginkan jawaban yang sama.

Gudang itu berdiri di tepi kawasan industri lama, sebagian dindingnya sudah retak, catnya mengelupas dengan beberapa jendelanya pecah. Tempat yang sempurna untuk film horor. Aku berpikir tempat itu sangat tidak sempurna untuk didatangi orang waras.

"Kita masih bisa pulang." Kata Revaldi.

Aku menggeleng, tapi semuanya sudah terlambat, karena pintu gudang sudah terbuka, dan seseorang sedang berdiri di dalam, seorang laki-laki tinggi, kurus dengan memakai jaket denim hitam. Wajahnya tidak asing, karena aku pernah melihatnya dari kejauhan di halte, di foto-foto pengawasan dan di berbagai cerita yang selama ini kami dengar.

Jay.

Selama beberapa detik tidak ada yang berbicara, hanya suara angin yang masuk melalui jendela rusak. Kemudian Jay tersenyum, tidak menyeramkan, tapi juga bukan senyum bahagia. Lebih seperti senyum seseorang yang lelah.

"Sekarang aku paham." Katanya pelan.

"Paham apa?" Tanya Revaldi dingin.

"Kenapa Aira tertarik pada tulisan Ve."

Aku langsung mengernyit, Jay menggeleng pelan.

"Kalian masih sama."

"Apa maksudmu?"

"Keras kepala."

Aku melihat sesuatu yang tidak pernah kuceritakan sebelumnya, kesedihan yang sangat dalam di mata Arga.

Lihat selengkapnya