Tidak ada yang berbicara, gudang tua itu mendadak terasa lebih dingin, sempit dan sunyi.
Aku menatap Jay, Revaldi menatap Jay, dan Lia menatap Jay, dan Jay seolah sedang bertarung dengan dirinya sendiri.
"Aku tidak suka bagian ini." Katanya pelan.
"Kenapa?" Tanyaku.
Aku melihat ketakutan di wajahnya.
"Bukan karena aku takut." Katanya.
"Lalu?"
"Aku takut kalian tidak akan percaya."
Jantungku berdetak lebih cepat karena kalimat seperti itu biasanya selalu diikuti sesuatu yang buruk.
"Putar rekamannya." Kata Revaldi nada suaranya tegas.
Namun aku mengenalnya cukup lama sekarang, aku tahu ia juga takut sama takutnya denganku.
Jay mengangguk pelan, lalu tangannya bergerak menuju perekam suara.
Klik.
Suara statis kembali terdengar seperti gemerisik, lalu suara Aira muncul lagi. Tapi kali ini lebih pelan dan bergetar seolah direkam pada malam yang berbeda.
"Aku harap aku salah."
Kalimat pertama itu langsung membuat bulu kudukku berdiri.
"Aku sungguh berharap aku salah."
Suara napasnya terdengar, kemudian ia melanjutkan.
"Karena kalau aku benar..."
"...aku tidak tahu harus mempercayai siapa lagi."
Revaldi menggenggam erat kedua tangannya, aku bisa melihat buku-buku jarinya memutih.
"Aku sudah mencoba mencari alasan."
"Aku sudah mencoba memahami semuanya."
"Tapi setiap kali aku menyusun potongannya..."
"...nama yang sama selalu muncul."
Ruangan terasa semakin sunyi, bahkan suara angin pun seperti menghilang.
"Aku tidak takut pada Raka."
"Aku tidak takut pada Mahesa."
"Aku bahkan tidak takut pada orang yang mengawasiku."
Lalu Aira berhenti beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam, dan kemudian ia menyebut nama itu.
"Aku takut pada Bagas."
Klik, rekaman berhenti. Selesai.
Semuanya mematung, tidak ada suara, tidak ada gerakan, karena tidak seorang pun mengerti.
"Bagas?" Bisikku.
"Siapa Bagas?"
Aku menoleh ke Lia, ia menggeleng ke Revaldi yang terlihat sama bingungnya.