Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #24

Mencari Hantu yang Masih Hidup #24 Kozmic Blues

Aku tidak menyangka sebuah pesan singkat bisa membuat dunia terasa begitu rapuh. Aku bahkan tak bisa merasakan tidur nyenyak sejak semua kejadian-kejadian itu berkelindan dan menyeret, begitu banyak orang yang sama sekali tak pernah aku duga, termasuk namaku sendiri ada di dalamnya. Aku pikir ini cuma kerja iseng stalker misterius, tapi kenyataanya kini semuanya sudah terlalu jauh.

"Kalau Ve sudah tahu tentang Bagas..."

"Maka giliran ayahnya yang akan mati."

Malam itu tidak ada yang berani pulang, bahkan untuk sekedar melelapkan mata, semua merasa ketakutan, seolah saat mata terpejam sesuatu akan datang dan mengancam. Tidak ada yang tidur, dan tidak ada yang benar-benar tenang.

Ayah memilih duduk di ruang kerja, dengan membiarkan pintu tetap terbuka, dan lampu menyala. Seolah ia sengaja menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, padahal aku tahu tidak. Setiap beberapa menit sekali aku melihatnya memandangi jendela, seolah takut ada seseorang di luar sana mengawasi dan menunggu, dan mungkin sebenarnya memang ada.

Pukul satu dini hari, akhirnya kami berkumpul di ruang makan. Aku, Revaldi, Lia, Jay, Ayah dan Ibu. Semua orang yang selama ini terhubung dengan misteri ini berada dalam satu ruangan, dan tidak satu pun dari kami memiliki jawaban.

"Polisi." Kata Ibu tiba-tiba.

"Kita lapor polisi."

Itu terdengar masuk sangat masuk akal, namun anehnya tak seorang pun langsung menjawab, karena kami semua memikirkan hal yang sama.

Bagaimana jika ancaman ini memang berasal dari seseorang yang sudah bergerak selama bertahun-tahun? dan Bagaimana jika ia sudah menghapus jejaknya jauh sebelum kami mulai mencari?

"Aku tidak bilang jangan lapor." Kata Jay pelan.

"Tapi itu tidak akan menghentikannya."

Ibu menatapnya.

"Kamu tahu itu dari mana?"

Jay tertawa, tapi tawanya terdengar pahit.

"Karena aku pernah mencoba."

"Apa?" Tanyaku.

Baru kali itu aku mendengar Jay mulai bercerita tentang dirinya, bukan tentang Aira, Revaldi atau juga masa lalunya. Tapi kali ini tentang dirinya sendiri.

"Dua tahun lalu aku menemukan nama Bagas." Katanya.

"Aku melapor."

"Lalu?"

"Tiga hari kemudian rumah kontrakanku dibobol."

"Polisi?"

"Tidak menemukan apa pun."

"Laptop hilang."

"Dokumen hilang."

"Catatan hilang."

"Hanya satu yang tersisa."

"Apa?"

Jay menatapku.

"Sebuah foto."

Dadaku langsung terasa sesak lagi.

"Foto siapa?"

Lihat selengkapnya