Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #25

Pertemuan dengan Orang yang Selama Ini Kami Cari#25 Kozmic Blues

Aku membayangkan Raka Pradana dengan banyak cara. Terutama selama beberapa hari terakhir ini. Kadang sebagai penjahat, sebagai korban. Malah sempat kepikiran dia adalah orang yang sedang berbohong, dan menyimpan terlalu banyak rahasia yang sebenarnya bisa menjawan semua pertanyaan kami.

Namun satu hal yang tidak pernah kubayangkan adalah bahwa aku akan gugup saat akhirnya bertemu dengannya.

Apalagi sekarang ia bukan lagi nama dalam surat, atau suara di telepon, bukan juga sosok yang samar sebagai bagian dari masa lalu seperti hari-hari kemarin sebelum semua ini semakin terkuak. Ia nyata, dan ia sedang menuju ke rumah kami.

Dua jam setelah telepon itu, sebuah mobil tua berhenti di depan pagar. Tidak mewah, dan tidak mencolok, terkesan biasa saja seolah pemiliknya sengaja tidak ingin menarik perhatian.

Pintu mobil terbuka, seorang pria turun. Usianya mungkin akhir tiga puluhan, atau awal empat puluhan, agak sulit ditebak. Apalagi wajahnya terlihat lelah, bukan karena kurang tidur, tapi terlihat lelah karena hidup. Mata yang redup dengan garis kantung mata. Menurutku itu jenis lelah yang tidak bisa disembuhkan dengan liburan.

Ia berdiri beberapa detik di depan pagar, menatap rumah kami. Lalu matanya bertemu mataku, dan entah kenapa, aku merasa ia sedang melihat seseorang dari masa lalu. Bukan diriku, tapi seseorang yang mengingatkannya pada orang lain.

"Aku Raka." Katanya pelan.

Tidak ada dramatisasi, atau nada ancaman, bahkan aku bisa merasakan tidak ada permainan. Tapi hanya seperti perkenalan biasa, tapi justru itu membuatku semakin tidak nyaman. Menurutku orang yang menyimpan begitu banyak rahasia seharusnya tidak setenang itu.

Ayah keluar dari rumah, begitu melihat Raka, ia langsung berhenti melangkah. Mereka saling menatap lama. Dua orang yang terpisah bertahun-tahun, yang sama-sama membawa luka. Tidak satu pun dari mereka tahu harus mulai dari mana.

"Aku minta maaf." Kata Ayah tiba-tiba.

Aku langsung menoleh, karena itu bukan kalimat yang biasa keluar dari mulutnya.

Raka tersenyum, tapi terasa sedih didalamnya.

"Bapak terlambat dua belas tahun." Jawabnya.

Tidak marah, tidak meninggi intonasi suaranya menjadi oktaf yang berbeda, tapi lagi-lagi justru itu yang membuatnya terasa menyakitkan bagi siapapun yang mendengarnya dan tahu masalahnya. Ada luka yang sudah terlalu lama untuk sekadar disebut luka.

Kami akhirnya masuk ke ruang tamu, suasana terasa sangat canggung, bahkan Lia yang biasanya mampu mencairkan suasana memilih diam. Revaldi terlihat terus mengamati Raka, seolah sedang mencoba membaca isi pikirannya.

"Aku tahu kenapa kalian mencariku." Kata Raka akhirnya.

"Karena Bagas." Tidak ada yang menyangkal, karena memang itu alasannya.

"Kalau begitu..."

Ia menarik napas panjang.

"...aku akan mulai dari hal yang paling penting."

Jantungku langsung berdebar, perutku bergejolak terasa seperti mual membayangkan akan seperti apa ceritanya nanti, akrena menurutku biasanya kalimat seperti itu selalu mengubah segalanya, dan ternyata benar dugaanku.

"Mahesa bukan korban pertama."

Apa?

Aku langsung seperti terkunci. Ayah juga, bahkan jay terlihat terkejut, karena rupanya ia pun tidak mengetahui bagian ini.

"Maksudmu?" Tanya Revaldi.

Raka menatap meja, kemudian berkata dengan hati-hati.

Lihat selengkapnya