Begitu banyak fakta baru yang terlihat di hadapan kami saat itu, membuat kami seperti tidak berkutik, dan tidak ada yang berbicara. Semua mata tertuju pada amplop putih di tangan Raka.
Amplop itu memang terlihat biasa. Tapi setelah semua yang terjadi, bahkan benda-benda kecil sering kali menyimpan rahasia terbesar. Sekarang rahasia itu berada tepat di depanku.
"Kenapa kamu tidak membukanya?" Tanya Lia pelan.
Raka tersenyum pahit.
"Karena itu bukan untukku." Jawabnya.
Meskipun jawabannya biasa, tapi membuat dadaku terasa sesak.
Bayangkan, selama bertahun-tahun ia menyimpan surat itu, tidak membukanya, tidak membuangnya, hanya menunggu seseorang bernama Velaren muncul. Padahal saat itu ia bahkan tidak tahu siapa aku. Ia juga pasti diliputi rasa penasaran, apa isi surat itu sebenarnya.
Perlahan Raka menyerahkan amplop tersebut kepadaku, tanganku gemetar saat menerimanya. Bukan karena takut, tapi karena aku merasa sedang menyentuh sesuatu yang seharusnya sudah lama hilang. Sesuatu yang berhasil bertahan melawan waktu.
"Aku buka?" Bisikku.
Tidak ada yang menjawab, karena semua orang tahu dan menunggu, dan setelahnya mungkin tidak ada jalan kembali setelah ini.
Aku membuka amplop itu perlahan, di dalamnya hanya ada dua lembar kertas, tidak ada foto, dokumen, da tidak ada petunjuk rahasia. Isinya hanya surat.
Tulisan tangan Aira memenuhi hampir seluruh halaman, aku mulai membaca.
Untuk Velaren,
Kalau surat ini sampai kepadamu, berarti aku gagal menyelesaikan semuanya sendiri.
Dan itu bukan kabar baik.
Aku langsung menelan ludah, karena pembukaannya terasa berbeda Terasa serius dan berat. Seolah Aira tidak sedang menulis kepada seseorang yang ia kagumi, melainkan kepada seseorang yang ia percayai.
Pertama-tama, maaf.
Karena aku memasukkanmu ke dalam sesuatu yang bahkan tidak kamu ketahui.
Aku langsung mengernyit. Apa maksudnya?
Aku membaca lebih cepat.
Aku tahu kamu mungkin bingung.
Kita tidak pernah bertemu.
Tidak pernah berbicara.
Dan mungkin kamu bahkan tidak tahu aku ada.
Dadaku terasa semakin sesak, karena kalimat itu sangat benar.
Tapi aku mengenal namamu jauh sebelum aku mengenal ceritamu.
Aku membeku lagi.
Apa?
Ruangan langsung sunyi, bahkan Raka terlihat terkejut, karena mungkin ini juga pertama kalinya ia mendengar isi surat tersebut.
Aku pertama kali mendengar nama Velaren ketika berusia enam belas tahun.
Bukan dari internet.