Tidak ada yang bergerak, semua seperti sedang menebak, apa maksud di balik kalimat itu.
Ruangan itu masih sama, lampu tetap menyala. Hujan gerimis tempiasnya memantul memukul jendela dengan ritme yang tidak berubah, tapi suasananya sekarang terasa berbeda.
Aku belum pernah melihat Ayah seperti itu, wajahnya pucat dengan tatatapan matanya yang kosong. Aku tahu itu bukan hanya ekspresi terkejut, tapi seperti seseorang yang baru saja melihat masa lalu berdiri tepat di depannya.
"Ayah..."
Suaraku terdengar jauh lebih pelan daripada yang kuinginkan, Ayah tidak menjawab, ia hanya terus menatap tulisan kecil di balik surat itu.
Tanyakan tentang Nara.
Tangannya perlahan menutup surat tersebut.
"Lupakan nama itu."
Kalimat itu keluar begitu saja, nyaris seperti perintah tegas, namun justru karena itulah aku tahu beliau sedang panik.
Lia mengerutkan dahi.
"Lupakan?"
"Iya."
"Tapi Aira menulisnya."
"Lupakan."
Nada suara Ayah kali ini lebih keras, membuat ruangan kembali sunyi. Raka saling berpandangan denganku.
Selama kami mengenal Mahesa, Ayah selalu menjadi orang yang paling rasional, ia tidak pernah meninggikan suara, tidak pernah juga menghindari pertanyaan, tapi sekarang beliau bahkan tidak mau mendengar nama itu disebut.
Aku menarik napas panjang tak tahu harus berbuat apa.
"Ayah."
Beliau menoleh perlahan.
"Siapa Nara?"
Tatapan kami bertemu, aku melihat sesuatu yang selama ini hanya kubaca dalam novel, ada rasa bersalah yang begitu pekat hingga membuat seseorang tampak jauh lebih tua dalam hitungan detik. Ayah menggeleng pelan.
"Kalian tidak perlu tahu."
"Justru sekarang kami harus tahu."
"Velaren..."
Suara beliau melemah.
"Ada beberapa rahasia yang tidak seharusnya dibuka."
Aku hampir tertawa getir.
"Bukankah itu yang selalu orang katakan sebelum semuanya menjadi lebih buruk?"
Ayah terdiam, kalimatku rupanya mengenai sesuatu di dalam dirinya.
Beberapa detik berlalu, tak seorang pun berbicara, hanya suara hujan, dan detak jam dinding.
Kemudian Ayah mengembuskan napas panjang.
"Nama Nara..."
Beliau berhenti.
"...seharusnya sudah hilang dua puluh tahun lalu."