Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #29

Orang yang Selalu Datang Lebih Dulu #29 Kozmic Blues

Tidak ada seorang pun yang berani menyentuh amplop cokelat itu, seolah-olah benda kecil itu bisa meledak kapan saja. Raka mengeluarkan sarung tangan tipis dari tasnya.

"Kamu bawa itu ke mana-mana?" tanyaku.

"Sejak berteman dengan kalian, aku belajar satu hal."

"Apa?"

"Sidik jari lebih jujur daripada manusia."

Dalam keadaan seperti itu, entah kenapa aku masih sempat menarik napas geli. Raka mengambil amplop itu perlahan, tidak ada nama pengirim, bahkan tidak ada lem, hanya dilipat sederhana.

Begitu dibuka, isinya hanya satu lembar kertas kosong.

Lia mengernyit.

"Kosong?"

"Mustahil," gumam Raka.

Ia membalik kertas itu, tetap kosong. Aku ikut memperhatikannya dengan lebih teliti, tapi memang tidak ada tulisan atau gambar atau apapun sebagai sebuah pesan. Kertas itu juga tidak ada bekas lipatan selain lipatan amplop.

"Orang itu sengaja mempermainkan kita?" tanya Lia.

Ayah menggeleng pelan.

"Tidak."

Beliau mengambil kertas itu lalu mengarahkannya ke lampu dapur.

"Mahesa pernah melakukan ini."

"Apa maksud Ayah?"

"Kertas tertentu menyimpan tinta yang tidak terlihat."

Kami semua mendekat, namun tetap tidak ada apa-apa.

Ayah tampak berpikir keras.

"Lampu biasa tidak cukup."

"Kalau begitu bagaimana cara membacanya?"

Beliau menatapku.

"Apakah kamu masih menyimpan kotak peninggalan Mahesa?"

Aku langsung teringat sebuah kotak logam tua yang kusimpan di gudang rumah. Isinya berbagai barang peninggalan Ayah angkatku, pulpen, jam tangan rusak, buku catatan, beberapa kaset lama.

"Ada."

"Di sana mungkin masih ada lampu ultraviolet."

Aku mengernyit.

"Mahesa punya lampu UV?"

Lihat selengkapnya