Di dalam ruangan itu tidak ada seorang pun yang berbicara, kami masih menatap foto di layar ponsel Raka yang dikirim seseorang, dan ia baru memotretnya beberapa menit yang lalu. Artinya, saat kami sibuk membaca daftar Subjek Nara, seseorang berdiri tidak lebih dari lima belas meter dari tempat kami berada, dan kami sama sekali tidak menyadarinya.
"Aku keluar." Raka langsung berlari menuju halaman belakang, aku menyusul.
Rumput masih basah oleh hujan, udara malam terasa dingin. Kami menyorotkan senter ke segala arah, tidak ada siapa-siapa, hanya jejak lumpur yang mengarah ke pagar belakang. Aku berjongkok, mengamati jika jejak itu masih baru dan air hujan belum sempat menghapus bentuk telapak sepatunya.
"Dia pergi ke sana." Raka menunjuk pagar.
Kami segera melompatinya, di balik pagar terdapat jalan kecil yang menghubungkan beberapa rumah kosong yang gelap dan sepi. Tidak ada suara selain dengung kabel listrik. Raka terus mengikuti bekas lumpur, aku berada tepat di belakangnya. Jejak itu berakhir di sebuah jalan aspal, di sana sebuah mobil hitam baru saja berbelok di ujung gang.
"Kita terlambat." Aku mengepalkan tangan.
"Bukan."
Raka menunjuk sesuatu di pinggir jalan, sebuah benda kecil tergeletak di dekat selokan. Ia mengambilnya menggunakan sapu tangan, sebuah flashdisk berwarna merah tanpa merek, dan tanpa tulisan.
"Apa ini sengaja dijatuhkan?"
Raka menggeleng.
"Kalau sengaja, berarti mereka ingin kita menemukannya."
"Lalu?"
"Kalau tidak sengaja..."
Ia memandang flashdisk itu beberapa saat.
"...berarti malam ini mereka juga sedang terburu-buru."
Kami kembali ke rumah. Ayah masih duduk di gudang tatapan matanya kosong. Aku menyerahkan flashdisk itu, beliau langsung menggeleng.
"Jangan dibuka di komputer rumah."
"Kenapa?"
"Kalau mereka cukup cerdas untuk mengawasi kita, mereka juga cukup cerdas memasang jebakan digital." Raka mengangguk.
"Ayah benar."
"Aku punya teman di kampus."
"Dia punya komputer yang benar-benar terisolasi dari internet." Aku menghela napas lega.
"Besok pagi kita ke sana."
"Tidak." Suara Ayah memotong.
"Malam ini." Aku menatap beliau.
"Semakin lama kita menunggu, semakin banyak bukti yang bisa hilang."
Pukul sebelas malam, kami tiba di Laboratorium Forensik Digital Fakultas Teknik. Gedung itu hampir kosong, hanya satu ruangan yang masih menyala. Seorang pria bertubuh kurus membuka pintu.
"Kamu benar-benar datang." Raka mengangguk.
"Maaf mengganggu, Dimas." Pria itu tersenyum.