Stalker Misterius KOZMIC BLUES

Hans Wysiwyg
Chapter #31

Protokol Pembersihan #31 Kozmic Blues

Alarm terus meraung, lampu merah di langit-langit berkedip tanpa henti. Setiap kedipannya membuat bayangan kami bergerak di dinding seperti orang-orang asing yang sedang mengintai. Tak seorang pun diantara kami saling berbicara, menunggu sesuatu yang datangnya tak terduga.

Kami hanya mendengar langkah kaki di balik pintu laboratorium, pelan tapi deru suaranya semakin dekat. Lalu, mereka seperti berhenti tiba-tiba. Aku menahan napas, Raka memberi isyarat agar kami mundur menjauh dari pintu. Dimas segera mematikan seluruh monitor yang masih menyala, ruangan mendadak gelap. Hanya lampu darurat merah yang masih hidup.

Klik.

Terdengar suara gagang pintu ditekan dari luar, hingga tiga kali disentak, namun pintu tetap terkunci. Tidak ada yang mencoba mendobrak, justru itulah yang membuat bulu kudukku berdiri. Orang di luar tahu pintu itu tahu, pintunya tidak akan terbuka, berarti mereka memiliki cara lain membukanya.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari pengeras suara laboratorium.

"Perhatian. Terjadi gangguan sistem. Mohon seluruh penghuni gedung tetap berada di ruangan masing-masing."

Kalimat itu terdengar normal, Dimas langsung menggeleng.

"Itu bukan suara sistem."

"Maksudmu?"

"Pengumuman gedung kami tidak seperti itu."

"Lalu?"

"Seseorang sedang menggunakan jaringan internal."

Ayah mendekati panel listrik di dinding, ia memperhatikan beberapa lampu indikator.

"Semua akses elektronik diambil alih."

"Termasuk pintu?" Ayah mengangguk.

"Lift."

"CCTV."

"Alarm."

"Semuanya."

Aku merasakan telapak tanganku mulai berkeringat, ini bukan pekerjaan seorang pembunuh bayaran. Ini pekerjaan seseorang yang tahu persis bagaimana gedung ini bekerja.

Tiba-tiba alarm berhenti, suasana mendadak sunyi hingga suara napasku sendiri terdengar asing. Lalu monitor yang tadi sudah dimatikan menyala sendiri. Satu per satu tanpa ada yang menyentuhnya muncul layar hitam kemudian muncul tulisan putih.

SELAMAT MALAM, VELAREN.

Lia refleks mundur.

"Itu... menyebut namamu." Aku tidak menjawab.

Tulisan itu menghilang, digantikan kalimat berikutnya.

KAMU SELALU TERLAMBAT MEMAHAMI CERITA.

Jantungku berdetak semakin cepat, huruf-huruf itu muncul seolah seseorang sedang mengetiknya saat ini.

KAMU MENCARI DALANG. PADAHAL DALANG SUDAH DUDUK BERSAMAMU SEJAK BAB PERTAMA.

Lihat selengkapnya