Setelah semua kejadian tak terduga, kehadiran orang misterius yang bahkan memotret kami semua dari jarak dekat membuat semua bertambah mengkuatirkan. Kini keberadaan kaset VHS itu membuat kami semua tak bisa memutuskan apa akan melanjutkan semua penelusuran jejak ini, atau semua harus berhenti tanpa jawaban, karena semua menjadi tidak mudah dan menakutkan. Kehadiran orang asing itu menjadi bukti kemungkinan kami semua bisa terancam bahaya.
Tak seorang pun berani menyentuh kaset VHS itu, benda kecil berwarna hitam itu tampak biasa. Namun setelah semua yang kami alami, aku tahu satu hal, yang paling berbahaya bukanlah benda yang tampak mengancam, melainkan benda yang tampak biasa.
Ayah memandang kaset itu lama sekali, tangannya perlahan terulur, lalu berhenti di tengah jalan, ragu-ragu beliau menarik kembali tangannya.
"Aku tidak sanggup." Suara itu hampir tidak terdengar.
Aku menatap beliau.
"Ayah..."
"Kalau ini benar tulisan ibumu, berarti rekaman ini dibuat sebelum semuanya berakhir." Beliau menggeleng pelan.
"Lalu kenapa tidak pernah Ayah tunjukkan?"
Beliau tersenyum getir.
"Karena aku tidak pernah tahu kaset ini ada."
Dimas membuka lemari besi kecil di sudut laboratorium, di dalamnya masih tersimpan sebuah pemutar VHS tua yang biasa dipakai mahasiswa untuk digitalisasi arsip.
"Semoga masih hidup," gumamnya.
Beberapa menit kemudian, kabel-kabel berhasil dipasang, mesin itu mengeluarkan bunyi mendengung pelan. Kaset dimasukkan, layar televisi tabung berkedip, gambar dipenuhi garis-garis semut, lalu perlahan menjadi jelas.
Seorang perempuan muncul di layar, usianya sekitar tiga puluh tahun, rambutnya diikat sederhana, wajahnya terlihat lelah. Namun sorot matanya hangat. Aku seperti tak berkutik, meskipun aku belum pernah melihat wajah itu, tetapi entah mengapa dadaku terasa sesak.
Ayah menundukkan kepala.
"Maaf..." Beliau berbisik kepada dirinya sendiri.
"Maafkan aku..."
Perempuan di layar tersenyum kecil, jika tidak ada konteks, orang akan mengira ia sedang merekam pesan ulang tahun. Padahal matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat, ia kemudian menarik napas panjang.
"Halo."
"Kalau rekaman ini diputar, berarti aku gagal."
Aku spontan teringat surat Aira, kalimat pembukanya hampir sama. Itu artinya mereka semua sudah mengetahui kemungkinan terburuk jauh sebelum semuanya terjadi.
Perempuan itu kembali berbicara.
"Namaku Maya."
"Kalau kamu yang sedang menonton ini..."
Ia berhenti sejenak.
"...maka besar kemungkinan kamu mengenalku sebagai ibumu."
Dadaku seperti diremas, aku tidak sadar melangkah mendekati layar, karena sepanjang hidupku, aku tidak pernah melihat wajah ibu kandungku karena tidak satu pun foto, atau pun video. Tapi kini, pertemuan pertama kami justru terjadi melalui rekaman berusia puluhan tahun.
Air mataku mulai menggenang.
"Velaren..." Suara Maya terdengar sangat lembut.
"Aku ingin meminta maaf."
"Bukan karena meninggalkanmu."